Kerajaan Mataram Islam

Share
Comment 3 reply
Kerajaan Mataram Islam

Kerajaan Mataram Islam yang dapat juga disebut sebagai kesultanan Mataram merupakan salah satu dari beberapa kerajaan islam di tanah jawa yang berdiri di sekitar abad ke-16.

Pada mulanya, kerjaan ini merupakan hadiah pemeberian dari raja Pajang untuk Ki Ageng Pemanahan, sebab jasanya yang telah mampu mengalahkan Arya Penangsang.

Dan pada saat itu pula Kerajaan Mataram Islam masih termsuk ke dalam wilayah kekuasaan Pajang.

Namun sejak periode kepemimpinan Sutawijaya, kerajaan ini berdiri menjadi satu kerajaan yang independent.

Peta kerajaan mataram islam:

sumber sejarah kerajaan mataram islam

Sejarah Singkat Kerajaan Mataram Islam

masjid agung solo

Kerajaan Mataram Islam terletak di wilayah Kotagede yang merupakan hadiah pemberian dari Sultan Hadiwijaya untuk Ki Ageng Pamanahan.

Sebab jasanya yang telah mampu mengalahkan Arya Penangsang di Jipang Panolan. Sehingga berdirilah kerajaan ini pada abad ke-16.

Pada saat awal berdirinya kerajaan ini, Sultan Hadiwijaya  melantik Ki Ageng Pemanahan sebagai bupati di wilayah Mataram sebagai imbalannya berkat keberhasilannya dalam menumpas Arya Penangsang.

Kemudian putra dari Ki Ageng Pemanahan yang bernama Sutawijaya diambil dan diangkat sebagai anak angkat oleh Sultan Hadiwijaya.

Hingga pada tahun 1575 tepat setelah Ki Ageng Pemanahan wafat, Sutawijaya menggantikannya sebagai bupati di wilayah Mataram.

Menjadi bupati dirasa kurang oleh Sutawijya, ia ingin menjadi raja yang menguasai seluruh Jawa. Oleh sebab itu, Sutawijaya mulai memperkuat sistem pertahanan yang ada di dalam Mataram.

Namun, keinginan Sutawijaya tidak disukai oleh Sultan Hadiwijaya, sehingga Sultan Hadiwijaya mengirim pasukannya untuk menyerang Mataram.

Pada tahun 1582 peperangan pun tak bisa dielakan. Pasukan dari Pajang menerima kekalahan sebab kala itu Sultan Hadiwijaya sedang sakit, namun selang beberapa waktu Sultan Hadiwijaya wafat.

Pada sata itulah terjadilah perebutan kekuasaan diantara bangsawan di dalam Pajang. Menantu dari Sultan Hadiwijaya sekaligus Bupati Demak yang bernama Pangeran Pangiri datang menuju Pajang untuk merebut tahta kerajaan.

Hal tersebut tentu saja memicu pertentangan dari para bangsawan Pajang yang telah bekerjasama dengan Sutawijaya yang merupakan bupati dari Mataram. Sehingga, Pangeran Pangiri beserta pasukannya dapat dipukul balik dan diusir dari Pajang.

Setelah suasana kerajaan dirasa aman, putra dari Sultan Hadiwijaya yang bernama Pangeran Benawa menyerahkan tahta kerajaannya kepada Sutawijaya.

Lalu memindahkan pusat pemerintahan Kerajaan Pajang ke Mataram di tahun 1586.  Dan pada saat itulah, berdiri sebuah kerajaan yang disebut dengan Kerajaan Mataram.

Silsilah Kerajaan Mataram Islam

silsilah kerajaan mataram islam

Raja pertama dari Kerajaan Mataram Islam adalah Sutawijaya yang memerintah sejak tahun 1586 hingga 1601. Sutawijaya merupakan putra dari Ki Ageng Pemanahan yang kemudian diangkat menjadi putra dari Sultan Hadiwijaya.

Sutawijaya mempunyai gelar Penembahan Senopati Ing Alaga Sayidim Panatagama. Pusat kerajaan pada mulanya berada di Kota Gede, sebelah tenggara dari Kota Yogyakarta saat ini.

Di masa pemerintahan Penembangan Senopati, kerajaan Mataram Islam mampu menguasai pada bupati yang membangkang yang berusaha melepaskan diri dari kerajaan mataram.

Bupati tersebut diantaranya adalah bupati Ponorogo, Kediri, Madium, Surabaya, Pasuruan, serta Demak yang berhasil ditundukan pada tahun 1595.

Namun pada tahun 1601, Penembangan Senopati wafat, dan ia dimakamkan di Kota Gede.

Setelah wafatnya Penembangan Senopati, putranya yang bernama Mas Jolang yang memiliki gelar Sultan Anyakrawati  naik tahta dari tahun 1601 hingga 1631.

Mas Jolang mengalami perlawanan dalam menghadapi pemberontakan para bupati. Dan sebelum ia berhasil menaklukan para bupati, Mas Jolang wafat di tahun 1613.

Mas Jolang meninggal di kawasan Krapyak, sehingga ia lebih dikenal dengan sebutan Penembangan Seda Kerapyak.

Putra dari Mas Jolang atau Penembangan Seda Kerapyak yang bernama Mas Rangsang kemudian menggantikannya ayahnya dan dikenal sebagai Sultan Agung ditahun 1613 hingga 1645.

Pada masa pemerintahan Sultan Agung, pusat pemerintahan kerajaan awalnya berada di Kerta, kemudian berpindah ke Plered.

Setelah menjadi Raja Mataram Islam, Sultan Agung harus kembali melawan musuh lamanya yakni Surabaya, namun perlawanan tersbeut ak dapat ditaklukan karena Surabaya dibantu oleh Kediri, Pasuruan, dan Tuban.

Di tahun 1615, pasukan dari Surabaya mampu dipukul balik serta dikalahkan di daerah Wirasaba (Majakerta).

Setelah Wirasaba mampu ditaklukan mataram, kerajaan juga kembali menaklukan daerah lain seperti Lasem, Pasuruan (1617), dan juga Tuban (1620).

Tepat pada tahun 1622, Sultan Agung mampu menaklukan Sukadana yang menjadi salah satu sekutu dari Surabaya.

Di tahun 1624, Kerajaan Mataram Islam juga mampu menundukan Madura, dan pada akhirnya di tahun 1645, Sultan Agung wafat dan dimakamkan di Bukit Imogiri.

Tahta Sultan Agung diturunkan kepada putranya yang bergelar Amangkurat I. Namun sayangnya, kehadiran Amangkurat I kurang disenangi oleh masyarakat dan juga para ulama, disebabkan sifatnya yang kurang mencerminkan sikap yang baik.

Oleh sebab itu pula, para bupati pesisir mulai melepaskan diri serta mendorong Amangkurat I untuk bersekutu dengan VOC.

Raja – Raja Kerajaan Mataram Islam

sejarah singkat kerajaan mataram islam

Kerjaan Mataram Islam pernah dipimpin oleh 6 orang raja, untuk lebih jekasnya simak ulasan di bawah:

1. Ki Ageng Pamanahan

Ki Ageng Pamanahan merupakan raja sekaligus pendiri dari Kerjaan Mataram Islam dari desa Mataram pada tahun 1556. Desa Mataram itulah yang menjadi wilayah kerajaan Mataram pertama yang dipimpin oleh anaknya bernama Sutawijaya.

Tanah dari desa ini awalnya berupa hutan lebat yang kemudian dipangkas oleh penduduk sekitar dan kemudian diberi nama Alas Mentaok.

Lalu kemudian, Ki Ageng Pamanahan menjadikan tanah tersebut sebagai sebuah desa yang disebut Mataram.

Ki Ageng Pamanahan wafat di tahun 1584  serta dimakamkan di Kota Gede atau sekarang disebut dengan Jogjakarta.

2. Panembahan Senapati

Setelah wafatnya Ki Ageng Pamanahan  di tahun 1584, kekuasaan kerajaan jatuh kepada putranya yang bernama Sutawijaya. Sutawijaya merupakan menantu sekaligus anak angkat dari Sultan Hadiwijaya.

Pada awalnya, Sutawijaya merupakan senapati dari kerajaan Pajang, oleh sebab itu ia memiliki gelar “Panembahan Senapati” sebab masih dianggap sebagai senapati utama dari Pajang dibawah Sultan Pajang.

Kerajaan Mataram Islam mulai bangkit kembali di bawah pemerintahan Panembahan Senapati.

Dimasa kepemimpinannya bahkan mampu memperluan wilayah kekuasaan kerajaan dari Pajang, Demak, Tuban, Madiun, Pasuruan dan sebagian besar wilayah di Surabaya.

Namun pada tahun 1523, Panempahan Senapati wafat lalu posisinya digantikan oleh putranya yang bernama Mas Jolang.

3. Raden Mas Jolang

Panembahan Anyakrawati atau yang lebih dikenal sebagai Raden Mas Jolang merupakan putra dari Panembahan Senapati bersama putri Ki Ageng Panjawi sang penguasa Pati.

Raden Mas Jolang adalah pewaris kedua dari kerajaan Mataram Islam. Ia memimpin kerajaan dari tahun 1606 hingga 1613 atau selama 12 tahun.

Pada masa pemerintahan Raden Mas Jolang banyak terjadi peperangan yang tak dapat dielakan. Peperangan disebabkan adanya penaklukan wilayah dan juga mempertahankan wilayah kerajaan.

Raden Mas Jolang wafat di tahun 1613 di desa Krapyak lalu kemudian dimakamkan di bawah makan ayahnya di daerah makam Pasar gede.

4. Raden Mas Rangsang

Raden Mas Rangsang merupakan raja ke 3 dari Kerajaan Mataram Islam serta merupakan putra dari Raden Mas Jolang.

Raden Mas Rangsang memerintah sejak tahun 1613 hingga 1645. Dimasa pemerintahannya lah Kerajaan Mataram Islam mengalami puncak kejayaan.

Sebab mampu menguasai hampir seluruh wilayah Tanah Jawa seperti Jawa Tengah, Jawa Timur dan sebagian Jawa Barat.

Beliau memiliki gelar Sultan Agung Senapati Ingalaga Ngabdurrachman.

Selain menaklukan tanah Jawa, Sultan Agung juga mampu mengalahkan VOC yang hendak merebut Jawa dan Batavia.

Pada masa pemerintahan Sultan Ageng, Kerajaan Mataram Islam berkembang menjadi suatu Kerajaan Agraris.

Dan pada akhirnya Sultan Ageng wafat di tahun 1645 dserta di makamkan di Imogiri.

5. Amangkurat I

Amangkurat I atau Sultan Amangkurat merupakan putra dari Sultan Ageng. Saat kerajaan di bawah pemerintahannya, beliau memindahkan pusat kerajinan dari kota Gede ke kraton Plered di tahun 1647.

Amangkurat I memerintah dari tahun 1638  hinga tahun 1647. Dan dimasa pemerintahannya kerajaan mengalami perpecahan.

Hal tersebut diakibatkan karena sultan Amangkurat I menjadi teman dari pihak VOC.

Sultan Amangkurat I wafat pada tanggal 10 Juli 1677 serta dimakamkan di Telagawangi, Tegal. Sebelum ia meninggal, ia sempat mengutus Sunan Mataram atua Amangkurat II untuk dijadikan penerusnya.

6. Amangkurat II

Raden Mas Rahmat atau Amangkurat II merupakan raja sekaligus pendiri dari Kasunanan Kartasura.

Kasunanan Kartasura sendiri merupakan lanjutan dari Kerajaan Mataram Islam. Amangkurat II memerintah dari tahun 1677 hingga tahun 1703.

Amangkurat II merupakan raja pertama yang mengenakan pakaian eropa sebagai pakaian dinas, oleh sebab itu masyarakat mataram menyebutnya sebagai Sunan Amral (Admiral).

Kehidupan Politik Kerajaan Mataram Islam

Setelah sukses memindahkan pusat pemerintahan dari Kerajaan Pajang menuju Mataram, lalu Sutawijaya diangkat menjadi Raja Mataram.

Ia memiliki gelar Panembahan Senapati Ing Alaga Sayidin Panatagama atau yang terkenal dengan sebutan Panembahan Senapati.

Masa pemerintahan Sutawijaya dimulai pada tahun 1586. Pada masa pemrintahannya, ternyata kerajaan banyak mengelami pemberontakan dibagian pesisir pantai utara Jawa.

Terdapat banyak wilayah yang menentang Senapati untuk memperluas wilayah kerajaan.

Hal tersebut dikarenakan Panembahan Senapati mampu menundukan wilayah sampai ke Surabaya, Madiun, Pasuruan, Ponorogo, Blambangan, Panarukan, Galuh dan juga Cirebon.

Meski dengan susah payah, sang senapati selalu berusaha untuk menundukan para bupati yang memiliki niat untuk menentang dan juga lepas dari kerajaan.

Lalu tepat pada tahun 1595, daerah Galuh dan juga Cirebon mampu ditaklukan okeh Kerajaan Mataram Islam.

Sehingga diakhir masa kepemimpinan Panembahan Senapati, Kerajaan Mataram Islam berhasil dalam menundukan wilayah kekuasaan mulai dari Pasuruan, Jawa Timur hingga Galuh, Jawa Barat.

Kehidupan Ekonomi Kerajaan Mataram Islam

Kerajaan Mataram Islam berada di pedalaman tanah Jawa, sehingga kondisi perekonomian waktu itu banyak mengandalkan sektor pertanian sebagai sumber utamanya.

Basis utama pertanian tersebut berada di Jawa bagian tengah dengan komoditas utamanya yang berupa beras. Dan pada abad ke-17, Kerajaan Mataram mampu menjadi pengeskpor beras terbesar yang ada di Nusantara.

Selain betumpu pada sektor pertanian, Kerajaan Mataram Islam juga sukses dalam sektor perdagangan dengan komoditas utama berupa palawija dan juga beras.

Terdapat ciri kehidupan dari kerajaan Mataram islam yaitu menganut sistem feodal yang berdasar atas sistem agraris.

Saat itu, para pejabat dan bangsawan diberikan imbalan yang berupa tanah lungguh dengan tujuan untuk dijadikan sebagai sumber utama ekonomi.

Kemudian, tanah lungguh tersebut digarap oleh masyarakat sekitar yang berniat untuk menyerahkan sebagian hasil dari pertaniannya kepada penguasa sebagai sebuah imbalan.

Adapun ikatan yang terjadi antara rakyat dan juga bangsawan yang disebut sebagai sistem patron-klien.

Kehidupan Sosial Dan Budaya

Kehidupan Sosial

Pada masa Kerajaan Mataram Islam kehidupan masyarakatnya sudah tertata dengan baik dengan didasarkan hukum islam tanpa meninggalkan norma-norma lama.

Dalam sistem pemerintahannya, raja adalah pemegang kekuasaan yang tertinggi, lalu diikuti dengan sejumlah pejabat petinggi kerajaan lainnya.

Di dalam bidang keagamaan terdapat penghulu, khotib, naid, serta surantana yang memiliki tugas dalam memimpin kegiatan upacara-upacara keagamaan.

Di dalam bidang pengadilan terdapat jabatan jaksa  yang memiliki tugas dalam menjalankan segala bentuk pengadilan di dalam kerajaan atau istana.

Untuk menciptkan ketertiban diseluruh area kerajaan, diciptakanlah sebuah perturan yang disebut dengan anger-anger yag harus dipatuhi oleh seluruh penduduk wilayah kerajaan.

Kehidupan Kebudayaan

Berbeda dengan kerajaan islam lainnya yang memiliki corak maritim, Kerajaan Mataram Islam lebih kepada corak agraris yang memiliki ciri feodal.

Raja merupakan pemiliki seluruh tanah yang ada di wilayah kerajaan beserta segala isi yang ada di dalamnya.

Sedangkan sultan memupunyai peran dalam penata agama atau pengatur dalam kehidupan beragama islam bagi masyarakatnya.

Pada kehidupan budaya di dalam Kerajaan Mataram Islam berkembang pesat dalam bidang seni yang berupa seni sastra ataupun seni ukir, Lukis, dan bangunan.

Di masa pemerintahan Sultan Agung, sistem penanggalan telah berubah dari perhitungan Jawa Hindu atau Saka menjadi penanggalan Islam atau Hijriah.

Dalam perhitungan tahun Islam tersebut di dasarkan adanya peredaran bulan serta telah dimulai sejak tahun 1633.

Tak hanya itu, Sultan Agung juga sudah menyusun sebuah karya sastra yang sangat terkenal dan disebut sebagai kitab sastra Gending.

Serta menyusun adanya kitab undang-undang baru yang digunakan sebagai panduan yang berasal dari hukum islam dengan Hukum Adat Jawa yang lebih dikenal sebagai Hukum Surya Alam.

Masa Kejayaan Kerajaan Mataram Islam

Kerajaan Mataram Islam mengalami puncak kejayaan pada masa pemerintahan Sultan Agung Hanyokrokusumo dari tahun 1613 hingga 1646.

Pada masa kekuasannya, wilayah kekuasaan kerajaan mencangkup Pulau Jawa (kecuali Banten dan Batavia), Pulau Madura, serta daerah Sukadana di Kalimantan Barat.

Pada saat itu, wilayah Batavia dikuasai oleh pihak VOC (Vereenigde Oost Indische Compagnie ) Belanda. Sehingga, kekuatan militer kerajaan mataram membesar karena memiliki rasa anti kolonialisme.

Dan pada tahun 1628 dan 1629 kerajaan mataram menyerang VOC di Batavia.

Menurut pendapat dari Moejanto,  seperti yang telah dikutip oleh Purwadi pada tahun 2007.

Sultan Agung memakai konsep politik keagungbinataran yang memiliki arti bahwa kerajaan Mataram harus berupa ketunggalan, utuh, bulat, tidak tersaingi, serta tidak terbagi-bagi.

Runtuhnya Kerajaan Mataram Islam

masa kejayaan kerajaan mataram islam

Keruntuhan Kerajaan Mataram Islam dimulai pada saat kekalahan Sultan Agung dalam misi merebut Batavia serta menguasai seluruh Jawa dari Belanda.

Kemudian setelah kekalahan tersebut, kehidupan ekonomi masyarakat kerajaan dilalaikan sebab masyarakat sebagian besarnya dikerahkan untuk menghadapi perang.

Rasa dendam dan juga permusuhan dari Wangsa Sailendra terhadap Jawa terus menerus berlanjut hingga Wangsa Isana berkuasa.

Sewaktu Mpu Sindok memulai periode pemerinatahannya di Jawa Timur, pasukan Sriwijaya datang untuk menyerangnya.

Pertempuran tak dapat dielakan dan terjadi di daerah Anjukladang yang sekarang dikenal dengan Nganjuk, Jawa Timur, dan kemudian pertempuran tersebut dimenangkan oleh pihak Mpu Sindok.

Peninggalan Kerajaan Mataram Islam

rangkuman kerajaan mataram islam

Sebagai suatu kerajaan yang pernah eksis, pastinya Kerajaan Mataram Islam memiliki barang peninggalan yang juga sebagai sumber sejarah kerajaan mataram islam. Berikut merupakan beberapa peninggalan dari Kerajaan Mataram Islam:

  1. Sastra Ghending karya Sultan Agung,
  2. Tahun Saka
  3. Kerajinan Perak
  4. Kalang Obong, yaitu tradisi kematian orang kalang dengan cara membakar beberapa peninggalan orang yang telah meninggal
  5. Kue kipo adalah makanan khas masyarakat kota gede, makanan ini konon katanya telah ada sejak jaman kerajaan mataram islam
  6. Pertapaan Kembang Lampir, tempat Ki Ageng Pemanahan bertapa untuk mendapatkan wahyu kerajaan Mataram Islam
  7. Segara Wana dan Syuh Brata, yaitu meriam-meriam yang diberikan oleh Belanda atas perjanjiannya dengan kerjaan Mataram saat masa kepemimpinan Sultan Agung.
  8. Puing – puing candi Hindu dan Budha yang terdapat di aliran Sungai Opak dan juga aliran sungai Progo
  9. Batu Datar yang terletak di Lipura lokasinya tak jauh di barat daya kota Yogyakarta
  10. Pakaian Kiai Gundil atau lebih dikenal sebagai Kiai Antakusuma
  11. Masjid Agung Negara yang dibangun pada tahun 1763 oleh PB III.
  12. Masjid Jami Pakuncen yang didirikan oleh sunan Amangkurat I
  13. Gapura Makam Kota Gede, yang merupakan perpaduan antara corak hindu dan islam.
  14. Masjid yang berada di Makam Kota Gede.
  15. Bangsal Duda
  16. Rumah Kalang
  17. Makam dari Raja- Raja Mataram yang berlokasi di Imogiri
  18. Gerbang Makam Kota Gede

Itulah ulasan lengkap mengenai Kerajaan Mataram Islam, semoga dapat membantu kegiatan belajar anda. Termakasih telah berkunjung.

Artikel Lainnya
Mungkin kamu juga suka artikel ini.