Rumah Adat Sulawesi Barat

Share
Comment 0 reply
Rumah Adat Sulawesi Barat

Terdapat dua rumah adat Sulawesi Barat yang sudah dikenal, yaitu rumah adat suku mandar bernama Boyang dan rumah adat suku kalumpang atau galumpang bernama Banoa Sibatang.

Setiap rumah adat yang ada tentunya memiliki filosofi mendalam dan mempunyai kesamaan tentang nilai sakral budaya leluhur.

Pengaruh rumah adat pun didasarkan pada cerita sejarah yang menyertainya dan dipengaruhi oleh kondisi budaya antar suku. Untuk informasi lebih lengkap, berikut daftar rumah adat yang ada di Sulawesi Barat.

Daftar Rumah Adat Sulawesi Barat Berdasarkan Suku

1. Rumah Adat Suku Mandar

Rumah Adat Suku Mandar

Rumah adat dari suku mandar disebut dengan rumah adat Boyang. Suku mandar merupakan suku asli yang mendiami Sulawesi Barat dan jumlahnya sangat banyak sehingga mendominasi.

Dengan memiliki keunikan tersendiri dan mengadopsi bentuk rumah panggung. Inilah beberapa penjelasan detail tentang bagian rumah adat Boyang.

Struktur dan Arsitektur Rumah Adat Sulawesi Barat (Boyang)

Berdasarkan sejarah, bahwa tiang yang digunakan pada boyang berbeda-beda dengan keberadaan strata sosial pemilik rumah. Itulah kenapa rumah adat boyang memiliki bentuk yang berbeda-beda.

Boyang merupakan dominan rumah adat berbentuk rumah panggung yang tiang penyangganya tidak ditancapkan ke tanah.

Tiang penyangga yang ada pada rumah adat boyang tingginya sekitar 2 meter, namun tiang tersebut tidak langsung menancap ke tanah.

Tiang penyangga ditumpang di atas batu pada permukaan yang datar dengan bahan kayu berkualitas baik. Dengan hal ini kayu yang digunakan tidak akan mudah lapuk dan bertahan lama sebagai tiang penyangga.

Pada rumah adat boyang juga terdapat berbagai jenis ornamen dan memiliki makna serta filosofi tentang suku mandar. Pelestarian, nilai luhur dirawat dan dijaga bersama dengan tetap lestarinya rumah adat yang didiami oleh suku mandar.

Dengan berbentuk rumah panggung yang tinggi diperlukan akses tangga yang menuju ke rumah. Biasanya tangga yang dibuat berjumlah 7 hingga 13 yaitu memilih angka ganjil.

Dan pada bagian dinding rumah dihias dengan ukiran yang begitu khas dari suku mandar.

Jumlah ruangan juga begitu banyak dengan memiliki fungsi yang berbeda. Adapun nama yang sering disebut untuk bagian ruangan yaitu lontang. Dengan pembagian antara lotang utama serta lotang tambahan pada rumah adat boyang.

Konsep seperti rumah adat ini juga bisa diterapkan di hunian saat ini untuk melahirkan rumah yang etnik. Perihal inspirasinya bisa cek di dekadeko.com.

Pembagian Ruangan Rumah Adat Boyang

Ciri khas jumlah ganjil anak tangga juga diterapkan pada pembagian ruangan rumah. Yaitu berjumlah 7 ruang, dengan ruang utama terdapat tiga bagian. Sementara itu, ruang tambahan terdapat empat bagian, inilah beberapa penjelasan bagian dari rumah adat boyang.

Lontang Utama

Pada lotang utama dibagi menjadi tiga bagian yang terdiri dari,

  • Samboyang, terletak pada depan rumah dengan fungsi sebagai tempat utama saat acara adat yang digunakan untuk para pria berkumpul. Sebagai area penerima tamu dan samboyang terlihat sangat luas.
  • Tangga boyang, digunakan untuk sebutan ruang tengah pada rumah adat. Merupakan pusat berkumpulnya keluarga dengan berbagai aktivitas. Tangnga boyang tentu memiliki luas yang lebih banyak dibandingkan dengan ruangan lainnya.
  • Bui boyang, disebut juga dengan istilah songi. Yang merupakan kamar-kamar bagi si pemilik rumah boyang. Kamar-kamar tradisional tersebut juga memiliki ukuran yang berbeda antara satu dan lainnya.

Lontang Tambahan

Pada lotang tambahan dibagi menjadi empat bagian yang terdiri dari,

  • Tapang, sebuah ruangan yang terletak pada bagian atas. Dahulu merupakan tempat bagi calon pengantin berdiam diri dalam mengikuti adat istiadat yang berlaku. Kemudian fungsinya berganti menjadi gudang atau tempat penyimpanan di atas.
  • Paceko, merupakan sebuah dapur yang terletak menyilang pada bangunan utama. Tempat penting guna penyimpanan makanan dan persediaan bahan makan serta tempat para wanita untuk memasak. Ada ruang lain yang bergabung dengan paceko yaitu kamar mandi yang disebut dengan istilah pattetemenagang.
  • Lego-lego, sebuah ruang yang dianggap beranda rumah, merupakan teras tanpa atap. Ruangan untuk tempat bersantai para keluarga saat sore hari dengan area luas.
    Naong boyang, merupakan kolong rumah yang letaknya dibawah bangunan dengan alasnya berupa tanah. Pemanfaat naong boyang sebagai tempat menyimpan dan memelihara ternak. Atau bisa juga digunakan sebagai tempat untuk menenun kain sarung yang disebut dengan manette.

Jenis Rumah Adat Boyang

Ada dua jenis yang ada pada rumah adat boyang. Jenis tersebut didasarkan adat masyarakat setempat berdasarkan strata sosial yang ada disana.

  • Rumah Adat Boyang Adaq, merupakan rumah adat dengan struktur lebih tinggi yaitu dilihat dari ornamen yang ada. Seperti ornament tumbag layar yang memiliki tujuh susunan. Karena semakin tinggi susunan artinya semakin tinggi strata sosial, misalnya jabatan bangsawan di masyarakat sekitar.
  • Rumah Adat Boyang Beasa, yaitu jenis rumah adat boyang yang ditinggali oleh orang biasa. Terlihat dari ciri khas rumahnya yang hanya memiliki satu susun anak tangga. Dan memakai tombak layar atau penutup pun satu dengan atap rumbia.

Filosofi dan Keunikan Rumah Boyang

Boyang, yang merupakan salah satu rumah tradisional tentu memiliki aturan adat. Dan aturan adat yang ada harus dipatuhi masyarakat saat akan melakukan pembangunan rumah. Ada beberapa keunikan serta filosofi rumah adat boyang.

  • Rumah boyang menghadap ke matahari terbit atau menghadap ke arah timur. Merupakan sebuah simbol yang memberikan keselarasan dan keharmonisan.
  • Ornamen yang terdapat pada bagian rumah boyang merupakan cerminan dan ciri khas suku mandar. Tentunya menjadi identitas secara filosofis di masyarakat seperti apa suku mandar Sulawesi Barat.

Dengan memahami seperti apa rumah adat boyang dari suku mandar. Maka berikutnya terdapat rumah adat Sulawesi Barat lainnya.

2. Rumah Adat Suku Kalumpang

Rumah Adat Suku Kalumpang

Keberadaan rumah adat dari suku kalumpang yang ada di Sulawesi Barat dinamakan rumah adat banoa sibatang. Terdapat ciri khas yang paling menonjol yaitu terdapat pada atap bangunan dan bagian bawah atap yang ada.

Berdasarkan sejarah, bahwa rumah adat suku kalumpang atau galumpang ini memiliki kaitan dengan nenek moyang Austronesia.

Kenapa Austronesia?

Bentuk tiang rumah berupa panggung yang memiliki desain berbentuk rakit. Yang merupakan salah satu jejak adanya para nenek moyang Austronesia melakukan migrasi dari Taiwan ke selatan.

Caranya dengan menggunakan rakit tersebut dan terdapat jejak sejarah yang diteliti oleh para arkeolog di suku kalumpang ini.

Secara konstruksi maka penjelasan dari rumah adat suku kalumpang memang mirip dengan rumah toraja. Hal ini dikarenakan suku kalumpang juga berasal dari Tana Toraja sehingga bangunan pun mempengaruhi gaya Toraja.

Rangka Utama Rumah Adat Banoa Sibatang

Pada pembangunan rumah tradisonal rangka utama yang dipilih adalah kayu. Pemilihan kayu tersebut juga harus yang kuat, kokoh serta tidak mudah lapuk digunakan pada penyangga pada banoa sibatang.

Karena nilai keunikan dan tradisi yang sudah ada sejak lama inilah menjadikan rumah adat memiliki ciri khas.

Biasanya bahan rumah menggunakan bahan alam, bahan ini juga digunakan oleh rumah adat lainnya. Atap berbahan alam tentu memiliki nilai filosofi tersendiri selain memiliki manfaat yang besar.

Konstruksi Pada Rumah Adat

Tiang pada Banoa Sibatang mirip dengan rumah adat suku mandar. Fungsinya sebagai penyangga rumah panggung. Disambungkan dengan lantai rumah yang memiliki desain seperti rakit dan pengaruh dari gaya rumah Toraja.

Mirip dengan rumah tongkonan yang atapnya juga berbentuk rakit, sehingga banoa sibatang memiliki pengaruh dari suku Toraja.

Konstruksi Atap

Untuk bagian atap yang digunakan biasanya memanfaatkan bahan alam yang ada bagi rumah adat. Seperti, daun nipah, rumbia, sirap, kayu besi, bambu, ijuk hingga ilalang sebagai atap rumah.

Pembuatan atap rumah bisa digunakan menggunakan parang labo, alat khusus dari suku kalumpang. Hal inilah yang menjadi ciri khas rumah tradisional yang mewarisi banyak budaya leluhur.

Bagian Dinding Rumah Adat

Penggunaan kayu menjadi bahan utama dinding rumah adat, bagi suku kalumpang pun memanfaatkannya atau bisa juga menggunakan papan pada dinding rumah dan memiliki kualitas terbaik sebagai bahan alam.

Bahkan zaman dahulu car memasangnya dengan menggunakan teknik simpul serta ikat agar tetap kokoh.

Tangga dari Banoa Sibatang

Anak tangga pada rumah adat Sulawesi Barat menggunakan kayu atau bambu. Tentunya dipilih kayu yang kokoh dan bambu berkualitas agar terjaga keawetannya.

Untuk jumlah anak tangga pada rumah adat biasanya berjumlah ganjil dan semakin tinggi maka semakin tinggi pula strata sosialnya.

Ciri khas lain yaitu dengan melihat kolong rumah yang terlihat tinggi yang artinya pemilik rumah mempunyai strata yang tinggi pula. Status sosial pada suku kalumpang masih ada hingga kini, yang tetap menjunjung tinggi budaya leluhur.

Zaman dahulu pembuatan tiang tinggi juga menghindari banjir serta adanya binatang buas.

Kini rumah adat, khususnya banoa sibatang justru menjadi tempat yang diteliti untuk mencari tahu jejak nenek moyang Austronesia. Berdasarkan peninggalan yang ada dan harus diteliti lagi secara sempurna.

Dengan adanya penjelasan tentang rumah adat Sulawesi Barat yang ada tentu menjadi catatan tersendiri. Ternyata secara menyeluruh hanya memiliki dua rumah adat Sulawesi Barat, yaitu Boyang dan Banoa Sibatang.

Kesimpulan

Keberadaan rumah adat Sulawesi Barat merupakan suatu peninggalan budaya leluhur yang perlu dilestarikan.

Tidak hanya oleh para suku yang mendiami rumah adat tersebut namun juga oleh semua orang. Karena sejarah dan kebudayaan meninggalkan jejak pengetahuan yang begitu panjang.what

Contohnya dengan adanya rumah adat Banoa Sibatang yang merupakan rumah adat suku kalumpang dengan jejak sejarah nenek moyang Austronesia.

Jejak tersebut sedang dipelajari oleh para arkeolog dengan adanya bukti peninggalan yang kuat.

Ketahui juga: Rumah Adat Sulawesi Selatan

Sementara itu perkembangan zaman saat ini tetap menjadikan rumah adat suku mandar sebagai tempat tinggal tentu menjadi keunikan tersendiri.

Itulah kenapa pemahaman akan rumah adat dan cara melestarikannya perlu dijunjung tinggi.

Karena nilai luhur budaya bangsa dan peninggalan nenek moyang yang begitu bernilai memiliki pengetahuan yang penting.

Sebuah catatan sejarah dalam peradaban manusia dan bukti bahwa sejak dahulu kala Indonesia memiliki kebudayaan yang tinggi dan penuh makna.

Artikel Lainnya
Mungkin kamu juga suka artikel ini.