Ahmad Manarul Seorang pemimpi yang ingin bermanfaat untuk banyak orang. Menjadikan pengalaman sebagai guru terbaik. Jangan berhenti belajar!

Peraturan Bulu Tangkis Sesuai Dengan Standar BWF

13 min read

Peraturan Bulu Tangkis

Berikut merupakan peraturan bulu tangkis yang sesuai dengan standar organisasi bulu tangkis internasional.

Atau Federasi Bulu Tangkis Internasional (International Badminton Federation) yang disingkat sebagai IBF.

Dan dalam pertemuan Umum Luarbiasa yang digelar di Madrid pada  24 September 2006.

Nama International Badminton Federation (IBF) diganti dengan Badminton World Federation (BWF) hingga sekarang.

Peraturan Bulu Tangkis Sesuai Standar BWF

Peraturan Bulu Tangkis

Lapangan

Pasal 1

ayat:

  • (a) Lapangan mempunyai bentuk dan ukuran sesuai aturan yang telah ditetapkan (kecuali dalam kasus seperti disebutkan dalam ayat (b) dari peraturan ini).
  • Tandailah dengan warna putih, hitam, atau warna lain yang jelas terlihat, dengan tebal garis 3,8 cm (1 1/2 inci).
    Dalam menandai lapangan, lebar dari garis tengah lapangan harus dibagi dua sama antara bidang servis kanan dan kiri; ketebalan garis servis pendek dan garis servis panjang (masing-masing 3,8 cm atau 1 1/2 inci)  harus  berada  di  dalam  ukuran  13′ (= 3,96 m) yang dicantumkan sebagai panjang lapangan servis dan ketebalan dari semua garis batasnya (masing-masing 3,8 cm atau 1 1/2 inci) harus berada dalam betas ukuran yang telah ditentukan.
  • (b) Bila ruang yang tersedia tidak memungkinkan pemberian tanda batas lapangan untuk permainan ganda, dapat dibuat tanda-tanda hanya untuk permainan tunggal.
    Garis batas belakang, juga menjadi garis servis panjang; dan tiang-tiang atau garis batas pada jaring seperti diungkapkan dalam peraturan Pasal-2, akan ditempatkan pada garis samping lapangan.

Tiang

Pasal-2     

  • Tinggi kedua tiang harus 155 cm (5 kaki 1 inci) dari lantai. Kedua tiang tersebut harus kuat untuk menjaga jaring tetap tegang.
    Seperti disyaratkan dalam peraturan Pasal-3, dan harus ditempatkan pada garis batas samping lapangan.

Jaring 

  • Jaring harus dibuat dari tali halus yang disamak dan dijala dengan jarak 1,6 cm (5/8 inci) sampai dengan 2,0 cm (3/4 inci).
    Jaring harus terentang dengan tegang dan kuat di antara tiang-tiang dan harus mempunyai lebar 76 cm (2 kaki 6 inci).
    Ujung atas jaring harus berada 152 cm (5 kaki) dari lantai pada pertengahan lapangan dan 155 cm (5 kaki 1 inci) dari lantai pada tiang-tiangnya.
    Jaring harus mempunyai tepi dari pita putih selebar 7,6 cm (3 inci) dan dilipat dua, serta di tengah pita tersebut didukung oleh kawat  atau tali, yang ditarik dan ditegangkan dari ujung-ujung tiang.

Shuttlecocks atau Shuttle

  • Sebuah shuttle harus mempunyai berat 4,8-5,6 gram (73-85 grain) dan mempunyai 14-16 helai bulu yang dilekatkan pada kepala dari gabus yang berdiameter 2,5-2,9 cm (1-1 1/6 inci).
    Panjang bulu dari ujung bawah sampai ujung yang menempel pada dasar gabus kepalanya adalah 6,2-6,9 cm (2 1/2 – 2 3/4 inci).
    Bulu-bulu ini menyebar menjauhi gabusnya dan mempunyai diameter 5,5-6,3 cm (2 1/8 – 2 1/2 inci) pada bagian ujung bawahnya (yang terjauh dari gabus), serta diikat dengan benang atau bahan lain yang cocok sehingga kuat.
  • Suatu modifikasi dari spesifikasi shuttle boleh saja dibuat asal tidak menyalahi disain umum yang disebutkan di atas, kecepatan, berat, dan arah layang dari shuttle standar. Modifikasi dapat dipertimbangkan oleh organisasi nasional dengan pengecualian sebagai berikut :
  1. Pada tempat-tempat yang kondisi atmosfernya, baik cuaca maupun ketinggian tempatnya, sedemikian rupa sehingga shuttle standar menjadi tidak sesuai;
  2. Bila keadaan khusus sedemikian rupa sehingga modifikasi tersebut terpaksa dilakukan demi berlangsungnya pertandingan.
  • Sebuah shuttle dinyatakan tidak mempunyai kecepatan yang memenuhi syarat bila seorang pemain dengan kekuatan rata-rata, memukulnya dengan underhand penuh, dari tempat tepat di muka garis belakang lapangan (shuttle melayang sejajar garis samping lapangan, ke arah atas), maka jatuhnya tidak lebih dekat dari 30,48 cm (1 kaki) dan tidak jauh dari 76 cm (2 kaki 6 inci) di muka garis belakang lapangan lawannya.

ayat: 

  • (a) Pemain adalah semua orang yang melakukan permainan atau pertandingan.
  • (b) Permainan Bulutangkis harus dimainkan oleh masing-masing satu pemain di satu sisi lapangan (pada permainan tunggal) atau masing-masing dua pemain di satu sisi (pada permainan ganda)
  • (c) Sisi lapangan di mana tim yang berdiri di dalamnya sedang mendapat giliran melakukan servis dinamakan sisi dalam (in side), sedangkan sisi yang timnya menerima servis dinamakan sisi luar (out side).

Pasal 6

  • Sebelum pertandingan dimulai, wasit memanggil kedua tim yang berlawanan untuk mengundi siapa yang berhak :
  1. Melakukan servis pertama;
  2. Memilih sisi lapangan bagi timnya untuk memulai permainan. 
  • Pada umumnya, pengundian dilakukan dengan melemparkan koin. Tim yang berhasil menebak sisi yang keluar (sisi yang menghadap ke atas) dengan benar, diberi kesempatan untuk melakukan pilihan: apakah memilih melakukan servis permulaan ataukah memilih sisi lapangan. 

ayat:

  • (a) Permainan ganda atau tunggal putra, terdiri atas 15, seperti yang telah ditentukan sebelumnya.
    Misalnya dalam pertandingan dengan nilai 15, bila kedua pihak telah mencapai angka 14 sama, pihak yang pertama memperoleh angka 14, dapat menambahkan nilai akhir dengan 3 angka (dikenal dengan sebutan setting games).
  • Jika pertandingan itu telah ditetapkan (di-set), maka nilai awal yang ditentukan dinamakan love-all. Pihak yang pertama mencapai angka 3 dinyatakan sebagai pihak pemenang.
  • Dalam kedua hal ini, putusan untuk menetapkan pertandingan seperti itu (dengan tambahan 3 angka) harus dibuat sebelum servis berikutnya dilakukan, setelah nilai 14 sama dicapai.
  • (b) Pertandingan tunggal putri terdiri atas 11 angka. Bila dicapai angka 10 sama, maka pihak pemain yang pertama mencapai angka 10 tersebut mempunyai hak untuk menambah nilai akhir dengan 3 angka (dikenal dengan sebutan setting games). Jika Pertandingan itu telah ditetapkan (di-set), maka nilai yang ditentukan dinamakan love-all. Pihak yang pertama mencapai angka 3 dinyatakan sebagai pihak pemenang.
  • Dalam hal ini, Putusan untuk menetapkan pertandingan seperti itu (dengan tambahan 3 angka) harus dibuat sebelum servis berikutnya dilakukan, setelah nilai 10 sama dicapai.
  • (c) Salah satu pihak yang memperoleh hak untuk menambah nilai akhir seperti disebutkan di atas, bila menolak kesempatan tersebut, tetap akan diberi hak untuk menambah nilai kalau kesempatan berikutnya muncul lagi.
  • (d) Dalam pertandingan di mana salah satu pihak diberi syarat yang lebih berat (handicap games). Maka penambahan nilai akhir ini tidak diizinkan.

Pasal 8

  • Kedua pihak yang bertanding akan memainkan tiga pertandingan untuk menentukan siapa yang terbaik (the best of three);
    pemain yang lebih dahulu memenangkan 2 pertandingan (2 games) dinyatakan sebagai pemenang.
    Pemain akan bertukar sisi lapangan pada setiap akhir suatu game dan akan dimulai game berikutnya.
  • Pada game ketiga, pemain juga akan berpindah lapangan pada saat nilai akhir mencapai angka :

1. 8 pada pertandingan dengan 15 angka;

2. 6 pada pertandingan dengan 11 angka;

  • Atau pada pertandingan handycap bila salah satu pihak telah mencapai setengah dari angka keseluruhan yang ditentukan untuk memenangkan pertandingan (angka dibulatkan ke atas bila terjadi bilangan pecahan).
  • Bila telah diizinkan untuk hanya memainkan satu pertandingan (1 game), maka pemain harus berpindah sisi tempat di lapangan seperti disebutkan dalam pertandingan (game) ketiga tadi.
  • Bila karena kelalaian, pemain lupa berganti tempat seperti yang telah ditetapkan, maka pada saat kesalahan ini disadari, pemain akan langsung berganti tempat, sedangkan nilai yang telah dicapai tetap berlaku.

Pertandingan Ganda

ayat:

  • (a) Telah ditetapkan pihak mana yang akan melakukan servis pertama. Pemain di bidang servis kanan memulai pukulan servis ke arah lawannya yang berdiri secara diagonal di hadapannya.
  • Bila pemain yang disebutkan belakangan ini dapat mengembalikan shuttle sebelum menyentuh lantai, maka pukulan berikutnya dilakukan oleh pemain dari sisi dalam (tim pemegang/pelaku servis), yang dibalas oleh pemain dari sisi luar (tim pertama servis), demikian seterusnya sampai terjadi kesalahan atau shuttle berhenti dimainkan (lihat ayat (b).
  • Bila kesalahan dibuat oleh pemain dari sisi dalam, maka hak untuk melanjutkan servis hilang karena hanya satu pemain dari tim yang memulai pertandingan yang boleh melakukan servis (lihat Pasal-11). Lawan yang berada pada bidang servis kanan kemudian menjadi pelaku servis; tetapi bila pukulan servis pertama tidak dapat dikembalikan atau pihak di sisi luar yang membuat kesalahan, maka pihak yang berada di sisi dalam memperoleh satu angka.
  • Bila keadaan seperti terakhir ini terjadi, maka pemain sisi dalam lalu bertukar posisi dalam bidang servisnya masing-masing.
    Kemudian servis dilakukan dari bidang kiri lapangan dan diarahkan kepada lawan yang berdiri berhadapan secara diagonal di bidang servis nya.
  • Selama sisi lapangan tetap merupakan sisi dalam, maka pukulan servis dilakukan bergantian dari tiap bidang servis dan selalu diarahkan ke sisi yang berseberangan diagonal.
    Pemain dari sisi dalam melakukan tukar posisi hanya atau betul-betul hanya bila terjadi penambahan nilai untuk pihak mereka.
  • (b) Pukulan servis pertama yang dilakukan pihak yang berada di sisi dalam lapangan selalu dilakukan dari bidang servis kanan.
  • Pukulan servis telah dilakukan begitu shuttle disentuh oleh pemain yang melakukan servis.
    Shuttle setelah itu berada dalam keadaan dimainkan sampai saat shuttle menyentuh lantai, atau bila kesalahan atau dibiarkan terjadi.
    Atau pengecualian seperti disebutkan dalam Pasal-19. Setelah servis dilakukan pemain yang melakukan servis dan pemain yang menerima servis telah mengembalikan shuttle ke arah lawannya (tim pelaku servis), para pemain boleh mengambil posisi apapun yang dikehendakinya, pada sisi bagiannya masing-masing yang dipisahkan oleh jaring dan dibatasi oleh garis batas lapangan.

Pasal 10

  • Pemain kepada siapa servis ditujukan saja yang boleh menerima servis, dan bila shuttle tersentuh atau dipukul oleh partner mainnya, maka pihak yang berada di sisi dalam mendapat angka.
  • Setiap pemain tidak boleh menjadi penerima servis dua kali berturut-turut dalam satu pertandingan, kecuali seperti dituliskan dalam Pasal-12.

Pasal 11  

  • Hanya satu pemain pada pihak yang melakukan servis permulaan atau pertama dari suatu pertandingan, yang dapat melakukan pukulan servis tersebut.
    Pada servis berikutnya, pemain dan partnernya akan dapat melakukan servis masing-masing secara berurutan.
  • Pihak yang memenangkan pertandingan, akan selalu mendapat giliran pertama pada servis pertandingan berikutnya.
    Dalam hal ini, salah satu pemain yang menang dapat melakukan servis, dan salah satu pihak pemain yang kalah dapat menerima servis (tidak ditentukan pemain yang mana).

Pasal 12

  • Bila seorang pemain melakukan servis pada gilirannya atau dari sisi lapangan yang salah (disebabkan kesalahan pihak pelaku servis), dan pihak yang melakukan servis yang memenangkan rally tersebut, maka akan terjadi let kembali yang harus diajukan sebelum pukulan servis berikutnya dilakukan.
  • Bila dalam kasus di atas pihak yang melakukan kesalahan kalah dalam rally, maka kesalahan akan didiamkan dan posisi pemain tidak akan dikoreksi selama pertandingan selanjutnya.
  • Bila seorang pemain karena kelalaiannya mengubah sisi di mana ia berdiri, bukan pada waktu yang seharusnya, tetapi kesalahan tersebut tidak diketahui, sampai pukulan servis berikutnya telah dilakukan, maka kesalahan akan didiamkan, serta let tidak dapat diajukan, dan posisi pemain tidak akan dikoreksi selama pertandingan selanjutnya.

Pertandingan Tunggal

  • Dalam pertandingan tunggal, peraturan Pasal-9 dan Pasal-12 berlaku juga, kecuali :
  • (a) Pemain akan melakukan servis dari atau menerima servis dari bidang servis kanan hanya bila nilai pelaku servis adalah 0 atau angka genap dalam pertandingan. Servis dilakukan dan diterima dari bidang servis kiri bila nilai pelaku servis merupakan angka ganjil.
  • (b) Kedua pemain akan mengubah bidang servis di mana masing-masing pemain itu berdiri setiap kali sebuah angka dibuat.

ayat:

  • Kesalahan yang dilakukan pemain yang berada pada sisi dalam lapangan, menggagalkan servis yang dilakukannya; bila kesalahan dilakukan oleh pemain yang berada di sisi luar (sisi lapangan yang menerima servis), maka satu angka diperoleh oleh pihak yang berada di sisi dalam (sisi lapangan yang melakukan servis). Kesalahan terjadi apabila :
  • (a) Ketika melakukan servis, shuttle pada saat disentuh raket berada di atas ketinggian pinggang pemain; atau apabila salah satu bagian dari kepala raket berada lebih tinggi daripada salah satu bagian tangan pelaku servis yang memegang raket pada saat shuttle disentuh oleh raket.
  • (b) Ketika melakukan servis, shuttle jatuh ke bidang servis yang salah (yaitu ke sisi yang tidak berhadapan diagonal dengan sisi pelaku servis); atau jatuh di muka garis servis pendek; atau dibelakang garis servis panjang; atau diluar garis batas samping lapangan; yang membatasi bidang servis ke mana shuttle harus ditujukan.
  • (c) Kaki pelaku servis tidak berada dalam bidang servisnya, atau bila kaki penerima servis tidak berada dalam bidang servisnya yang terletak berseberangan diagonal dari bidang servis pelaku servis; sampai pukulan servis selesai dilakukan (lihat peraturan Pasal-16).
  • (d) Sebelum atau ketika melakukan servis, salah satu pemain melakukan gerak tipu atau pura-pura atau secara sengaja mengejutkan lawannya.
  • (e) Dalam servis ataupun di tengah rally, shuttle jatuh di luar garis batas lapangan, atau melayang menembus atau di bawah jaring, atau menyentuh langit-langit, atau menyentuh dinding samping, atau menyentuh tubuh atau pakaian pemain (shuttle jatuh di atas garis dianggap jatuh ke dalam bidang lapangan, atau bidang servis, yang dibatasi oleh garis tersebut).
  • (f) Shuttle yang sedang dalam permainan dipukul sebelum menyeberang ke sisi lapangan pihak yang melakukan pukulan.
    (pihak yang melakukan pukulan boleh mengayunkan raketnya melewati jaring ke sisi lawan pada saat melakukan pukulan tersebut, tetapi pada saat persentuhan shuttle dengan raket maka harus terjadi di sisi lapangannya sendiri.
  • (g) Pada waktu shuttle sedang dalam permainan, seorang pemain menyentuh jaring atau tiang penyangganya dengan raket, bagian tubuh, atau bajunya.
  • (h) Shuttle menempel pada raket (tersangkut) pada saat pukulan dilakukan; atau bila shuttle dipukul dua kali berurutan oleh seorang pemain atau bila shuttle dipukul berurutan oleh pemain dan partnernya.
  • (i) Ketika dalam permainan, seorang pemain memukul shuttle (kecuali bila ia melakukan pengembalian yang baik), atau disentuh oleh shuttle, ketika ia berada di dalam atau di luar batas lapangannya.
  • (j) Pemain menghalang-halangi pemain lawannya.
  • (k) Peraturan Pasal-16 di langgar.
  • Pelaku servis tidak akan melakukan pukulan servis sampai penerima servis telah berada dalam keadaan siap.
    Penerima servis dianggap telah siap bila ia melakukan gerakan untuk menerima servis yang telah dilayangkan tersebut.
  • Pelaku dan penerima servis harus berdiri di dalam batas bidang servis masing-masing (dibatasi oleh garis servis panjang dan pendek, garis tengah, dan garis samping lapangan), dan bagian dari kedua kaki pemain-pemain ini harus tetap bersentuhan dengan lantai, dalam posisi yang diam, sampai shuttle telah disentuh oleh raket.
    Kaki yang berdiri di atas atau menyentuh sebuah garis (berlaku bagi pelaku maupun penerima servis) dianggap berada di luar bidang servisnya (lihat peraturan Pasal-14 (c)).
    Partner masing-masing pemain yang disebutkan di atas, boleh mengambil posisi apapun sebatas tidak menghalangi pandangan lawannya.

ayat:  

  • (a) Bila pada saat servis atau rally shuttle menyentuh dan melampaui jaring, maka hal itu tidak dianggap tidak sah.
  • Let dapat diajukan oleh wasit bila terdapat penghalang yang tidak terlihat atau tidak disengaja.
  • (b) Bila pada saat servis atau rally shuttle (setelah melampaui jaring) menyangkut di atas atau pada jaring, maka diajukan Let.
  • (c) Bila penerima servis dinyatakan salah karena bergerak pada saat servis sedang dilakukan, atau karena tidak berada dalam batas bidang servis yang seharusnya, seperti disebutkan dalam peraturan Pasal-14 (c) atau Pasal-16, dan pada saat yang sama pelaku servis juga dinyatakan melakukan kesalahan, maka diajukan Let.
  • (d) Bila diajukan Let, permainan yang terjadi sejak servis terakhir yang benar, tidak dihitung. Pemain yang baru saja melakukan servis akan melakukan servis ulang, kecuali bila peraturan Pasal-12 dapat diterapkan.
  • Bila pelaku servis, pada saat melakukan servis, tidak mengenai shuttle, maka itu dianggap sebagai kesalahan (fault); tetapi bila shuttle tersentuh oleh raket, servis bagaimanapun dianggap telah dilakukan.
  • Bila ketika dalam permainan, shuttle menyentuh jaring dan tetap tersangkut di sana, atau menyentuh jaring dan jatuh di sisi pemukulnya, atau menyentuh lantai luar lapangan;
    Dan kemudian seorang pemain lawan menyentuh jaring atau menyentuh shuttle dengan raket atau tubuhnya, maka tidak ada penalti karena shuttle dianggap tidak dalam permainan.
  • Bila pemain mempunyai kesempatan untuk memukul shuttle dengan arah ke bawah ketika berada dekat jaring, lawannya tidak boleh mengangkat raketnya dekat dengan jaring dengan harapan bahwa shuttle akan terpantul kembali olehnya.
    Ini karena tindakan tersebut termasuk menghalangi pihak lawan seperti tercantum dalam peraturan Pasal-14 (j)
  • Seorang pemain, bagaimanapun dapat mengangkat raketnya untuk melindungi wajahnya bila tindakanl itu tidak menghalangi lawannya.
  • Kewajiban wasitlah untuk menyatakan kesalahan (fault) atau let bila kedua hal tersebut terjadi tanpa pemain mengajukannya.
    Bila pemain mengajukan hal tersebut, maka wasit harus memberikan keputusannya.
    Bila pemain mengajukan fault atau let sebelum servis berikutnya, wasit dapat meminta bantuan penjaga garis atau hakim servis dalam menentukan kebijaksanaannya.
    Keputusan wasit tidak dapat diganggu gugat, tetapi ia harus menyokong keputusan penjaga garis atau hakim servis. Hal ini juga jangan menghalangi wasit dari menjatuhkan kesalahan pada pelaku ataupun penerima servis.

ayat:

  • Permainan harus berkelanjutan dari servis yang pertama sampai akhir pertandingan di mana tim yang menang disimpulkan; kecuali bila :
  • (a) Dalam International Badminton Championship dan dalam Ladies International Badminton Championship harus diizinkan waktu untuk istirahat kira-kira (tidak lebih dari) lima menit, yaitu antara pertandingan kedua dan ketiga;
  • (b) Di negara-negara di mana kondisi cuaca menyebabkan waktu untuk istirahat (tidak lebih dari lima menit) dibutuhkan, yaitu antara pertandingan kedua dan ketiga, baik merupakan pertandingan tunggal, ganda, maupun keduanya; dan
  • (c) Bila dibutuhkan karena keadaan yang tidak dapat dihindarkan oleh pemain, wasit dapat menunda permainan sampai waktu yang menurut pertimbangannya diperlukan.
    Bila permainan ditunda, nilai yang terakhir tetap berlaku dan bila permainan dilanjutkan, maka nilaipun mulai dihitung dari nilai terakhir tadi.
  • Dalam keadaan apapun, tidak diizinkan suatu permainan ditunda untuk mengembalikan kekuatan atau nafas salah seorang atau kedua pemain yang sedang bertanding atau ditunda supaya pemain dapat menerima instruksi atau nasehat tertentu.
  • Kecuali pada kesempatan waktu istirahat yang diizinkan seperti yang telah disebutkan di atas, pemain tidak diizinkan menerima nasehat selama ia masih melakukan pertandingan atau meninggalkan lapangan sebelum hasil akhir pertandingan (match), tanpa seizin wasit.
    Wasit merupakan hakim tunggal yang akan menilai dan memutuskan bila ada keragu-raguan dalam permainan dan wasit mempunyai hak melarang pemain yang melakukan pelanggaran, untuk melanjutkan pertandingannya.

Interpretasi

  • Suatu gerakan atau sikap pelaku servis yang menyebabkan terganggunya kontinuitas tindakan servis tersebut, setelah pelaku maupun penerima servis berada pada masing-masing posisi yang seharusnya, disebut sebagai permulaan dari gerakan pura-pura atau feint  (lihat peraturan Pasal-14 (d))
  • Termasuk gerakan menghalang-halangi apabila seorang pemain melewatkan raket atau bagian tubuhnya ke sisi lapangan lawan, kecuali bila diizinkan seperti diungkapkan dalam peraturan Pasal-14 (f).
  • Bila diperlukan, yaitu sehubungan dengan struktur bangunan, maka Lokal Badminton Autority (Persatuan Bulutangkis Lokal), dapat membuat peraturan-peraturan tambahan yang dimaksudkan untuk menanggulangi masalah shuttle yang menyentuh penghalang. Hal ini harus mendapat persetujuan dari National Organization.

Spesifikasi Internasional Untuk Ketinggian Lapangan 

Peraturan ini berlaku untuk pertandingan internasional manapun yang resmi, apakah Thomas Cup, Uber Cup.

Ataupun semua turnamen-turnamen terbuka dengan ruang lingkup kejuaraan nasional, dan banyak lagi seperti yang diizinkan oleh IBF.

Tinggi langit-langit lapangan Bulutangkis yang digunakan untuk pertandingan kompetisi minimun harus 7,9 meter (26 kaki) dari permukaan lantai di seluruh lapangan tersebut.

Ketinggian ini harus benar-benar bebas dari palang atau penghalang seluas seluruh lapangan.

Juga harus ada sedikitnya ruangan selebar 1,22 meter (4 kaki) mengililingi seluruh batas luar dari lapangan Bulutangkis.

Jarak ini juga merupakan lebar minimum yang diharuskan ada di antara dua atau lebih dan seterusnya untuk lapangan bulutangkis yang bersisian.

AMENDEMEN Peraturan BULUTANGKIS Yang Berkaitan Dengan UJI COBA Penerapan Sistem Penilaian RALLY POINT.

Pada bulan Desember Tahun 2005, IBF mulai melakukan uji coba sistem Penilaian Rally Point.

Dengan sistem penilaian baru ini, diharapkan jalannya pertandingan bulutangkis tidak terasa MEMBOSANKAN karena lambatnya terjadi perolehan nilai.

Sistem penilaian rally point ini sebenarnya telah lebih dulu diterapkan dalam permainan bola volley dengan latar belakang alasan yang hampir sama.

Dalam sistem yang baru ini, perolehan angka terjadi setiap terjadi kesalahan (fault); berbeda dengan sistem penilaian tradisional (Sistem Lama) yang perolehan angkanya hanya terjadi apabila pihak lawan yang tidak sedang memegang servis melakukan kesalahan.

Jadi, dalam sistem penilaian rally point, baik tim yang berada di sisi dalam maupun tim yang berada di sisi luar (tim pelaku atau penerima servis) akan memperoleh angka (nilai) setiap kali tim lawannya melakukan kesalahan.

Sehubungan dengan pemberlakuan Sistem Rally Point tersebut, beberapa peraturan yang telah diungkapkan di atas (Sistem Lama) mengalami perubahan. Beberapa Perubahan yang terjadi, yaitu : 

  1. Peraturan Pasal 7, menjadi:
  • Setiap pertandingan (baik ganda maupun tunggal) terdiri atas 21 angka.
    Bila kedua belah pihak telah mencapai angka 20 sama, maka diperlukan selisih 2 angka untuk menentukan pemenangnya; tetapi jika sampai dengan angka 29 kedua tim belum memiliki selisih 2 angka (atau kedua tim telah mencapai angka 29 sama), tim yang lebih dulu mencapai angka 30 ditetapkan sebagai pemenang.

2. Peraturan Pasal 8, menjadi:

  • Kedua belah pihak yang bertanding, akan memainkan 3 pertandingan untuk menentukan siapa yang terbaik (the best of three); pemain yang lebih dahulu memenangkan 2 pertandingan (2 games) dinyatakan sebagai pemenang.
    Pemain akan bertukar sisi lapangan pada setiap akhir suatu game dan akan dimulai game berikutnya.
  • Pada game ketiga, pemain juga akan berpindah lapangan pada saat nilai akhir mencapai angka 11.
    Bila telah diizinkan untuk hanya memainkan satu pertandingan (1 game).
    Maka pemain harus berpindah sisi tempat di lapangan seperti disebutkan dalam pertandingan (game) ketiga tadi.
  • Bila karena kelalaian, pemain lupa berganti tempat seperti yang telah ditetapkan, maka pada saat kesalahan ini disadari.
    Pemain akan langsung berganti tempat dan nilai yang telah dicapai tetap berlaku.

3. Peraturan Pasal 9, menjadi:

  • (a) Setelah ditetapkan pihak mana yang akan melakukan servis pertama.
    Pemain di bidang servis kanan memulai pukulan servis ke arah lawannya yang berdiri diagonal di hadapannya.
  • Bila pemain yang disebutkan belakangan ini dapat mengembalikan shuttle sebelum menyentuh lantai, maka pukulan berikutnya dilakukan oleh pemain dari sisi dalam, yang dibalas oleh pemain dari sisi luar, demikian seterusnya sampai terjadi kesalahan atau shuttle berhenti dimainkan.
  • Bila kesalahan dibuat oleh pemain dari sisi dalam, maka timnya kehilangan hak untuk melanjutkan servis dan lawannya memperoleh angka (yaitu angka 1).
    Lawan yang berada pada bidang servis kiri kemudian menjadi pelaku servis.
    Tetapi bila pukulan servis pertama tidak dapat dikembalikan atau pihak di sisi luar yang membuat kesalahan.
    Maka pihak yang berada di sisi dalam memperoleh satu angka.
  • Bila keadaan seperti terakhir ini terjadi, maka pemain sisi dalam lalu bertutar posisi dalam bidang servisnya masing-masing.
    Kemudian servis dilakukan dari bidang kiri lapangan dan diarahkan kepada lawan yang berdiri berhadapan secara diagonal di bidang servisnya.
  • Selama sisi lapangan tetap merupakan sisi dalam, maka pukulan servis dilakukan bergantian dari tiap bidang servis dan selalu diarahkan ke sisi yang berseberangan diagonal.
    Pemain dari sisi dalam melakukan tukar posisi hanya atau betul-betul hanya bila terjadi penambahan nilai untuk pihak mereka (bukan pihak lawan).
  • (b) Pukulan servis yang dilakukan pihak yang berada di sisi dalam lapangan dilakukan dari :
  1. Bidang servis kanan jika angkanya genap;
  2. Bidang servis kiri jika angkanya ganjil.
  • Pukulan servis telah dilakukan begitu shuttle disentuh oleh pemain yang melakukan servis.
    Shuttle setelah itu dalam keadaan dimainkan sampai saat shuttle menyentuh lantai, atau bila kesalahan atau dibiarkan terjadi.
    Atau pengecualian seperti disebutkan dalam peraturan Pasal-19.
    Setelah servis dilakukan pemain yang melakukan servis dan pemain yang menerima servis telah mengembalikan shuttle ke arah lawannya (tim pelaku servis), para pemain boleh mengambil posisi apapun yang dikehendakinya, pada sisi bagiannya masing-masing yang dipisahkan oleh jaring dan dibatasi oleh garis lapangan.
Pelajari juga materi Bulu Tangkis untuk melengkapi kegiatan belajar kamu!

4. Peraturan Pasal 11, menjadi:

  • Hanya satu pemain pada kedua belah pihak yang melakukan servis.
    Yaitu pemain yang mendapat giliran menempati bidang servis yang sesuai dengan angka yang dicapainya pada saat itu.
  • Pihak yang memenangkan pertandingan, akan selalu mendapat giliran pertama pada servis pertandingan berikutnya.
    Dalam hal ini, salah satu pemain yang menang dapat melakukan servis.
    Dan salah satu pihak pemain yang kalah dapat menerima servis (tidak ditentukan pemain yang mana).

5. Peraturan Pasal 13, menjadi:

  • Dalam pertandingan tunggal, peraturan Pasal-9 dan Pasal-12 berlaku juga.

6. Peraturan Pasal 22, menjadi:

  • (a) Dalam setiap pertandingan (game), diberikan jeda waktu selama 60 detik ketika salah satu pihak yang tengah bertanding ada yang telah mencapai angka 11 lebih dahulu.
    Hal ini dimaksudkan, selain untuk mengembalikan konsentrasi pemain juga dapat digunakan oleh pelatih untuk memberikan beberapa instruksi;
  • (b) Antara pertandingan (game) pertama dan kedua, serta antara pertandingan (game) kedua dan ketiga, kepada kedua pihak diberikan jeda waktu masing-masing selama 2 menit untuk istirahat dan mendengarkan instruksi dari pelatih;
  • (c) Bila dibutuhkan oleh keadaan yang tidak dapat dihindarkan oleh pemain, wasit dapat menunda permainan sampai waktu yang menurut pertimbangannya diperlukan.
    Bila permainan ditunda, nilai yang terakhir tetap berlaku dan bila permainan dilanjutkan, maka nilai pun dihitung mulai dari nilai terakhir tadi.
  • Dalam keadaan apapun, tidak diizinkan suatu permainan ditunda untuk mengembalikan kekuatan atau nafas salah seorang atau kedua pemain yang sedang bertanding atau ditunda supaya pemain dapat menerima instruksi atau nasehat tertentu.
  • Kecuali pada kesempatan waktu istirahat yang diizinkan seperti telah disebutkan di atas.
    Pemain tidak diizinkan menerima nasehat selama ia masih melakukan pertandingan atau meninggalkan lapangan sebelum hasil akhir pertandingan (match), tanpa seizin wasit.
    Wasit merupakan hakim tunggal yang akan menilai dan memutuskan bila ada keragu-raguan dalam permainan.
    Dan wasit mempunyai hak melarang pemain yang melakukan pelanggaran, untuk melanjutkan pertandingannya.

Itu dia peraturan bulu tangkis yang sesuai dengan standar Badminton World Federation atau (BWF) Semoga dapat menmbah pengetahuan kalian ya. Terima kasih telah berkunjung :)).

Ahmad Manarul Seorang pemimpi yang ingin bermanfaat untuk banyak orang. Menjadikan pengalaman sebagai guru terbaik. Jangan berhenti belajar!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *