Ahmad Manarul Seorang pemimpi yang ingin bermanfaat untuk banyak orang. Menjadikan pengalaman sebagai guru terbaik. Jangan berhenti belajar!

32 Pengertian Konflik Sosial Menurut Ahli

5 min read

konflik sosial

Jumpa lagi bareng kita, yuksinau.id yang senantiasa membahas mengenai segala ilmu pengetahuan yang pastinya perlu kalian pelajari. Dan kali ini yuksinau.id berkesempatan untuk membahas pengertian konflik sosial menurut ahli dan secara umum.

Yuk langsung saja simak baik-baik ulasan di bawah.

Pengertian Konflik Sosial Menurut Ahli

pengertian konflik sosial dan contohnya

Secara Umum

Konflik berasal dari bahasa latin yakni configere yang memiliki arti saling memukul. Secara sosiologis, konflik berarti sebagai sebuah proses sosial yang terjadi  diantara dua orang atau bahkan lebih (bisa juga dalam bentuk kelompok) di mana salah satu pihak berupaya untuk menyingkirkan pihak lain dengan cara menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya.

Konflik pada umumnya dikenal sebagai suatu bentuk petentangan atau perbedaan ide, pendapat, faham atau juga kepentingan yang terjadi di antara dua pihak atau lebih.

Perselisihan ini dapat berbentuk pertentangan fisik atau bahkan non-fisik, yang biasanya berkembang mulai dari pertentangan non-fisik akan menjadi benturan fisik, yang dapat memiliki kadar yang tinggi dalam bentuk kekerasan (violent), atau juga dapat berkadar rendah atau tidak menggunakan kekerasan (non-violent).

Menurut Para Ahli

Berikut beberapa pengertian konflik sosial menurut pendapat dari para ahli, diantaranya adalah sebagai berikut:

Soerjono Soekanto

Menurut gagasan yang disampaikan oleh Soerjono Sokanto, konflik sosial merupakan suatu cara dalam rangka ingin meraih tujuannya, sehingga setiap individu atau kelompok akan mengenakan segala cara termasuk hal itu adalah  ancaman atau kekearasan sebagai bentuk dari pertentangan atau perselisihan kepada lawannya, sehingga proses inilah yang disebut sebagai konflik.

Simmel “1995”

Apabila dalam tiap-tiap hubungan yang terjadi antara manusia merupakan sebuah sosiasi, maka konflik juga wajib dianggap sebagai sosiasi.

R.E. Park

Menurut pendapat dari R.E Park, pengertian dari konflik sosial dipandang sebagai salah satu bentuk dari suatu interaksi.

Taman Dan Burgess “1921”

Keduanya beranggapan bahwa konflik merupakan sebuag bentuk yang berbeda dari kompetisi ataupun persaingan.

Mereka menyebutkan bahwa keduanya adalah bentuk dari suatu interaksi, kompetisi atau persaingan yang merupakan perjuangan yang terjadi diantara individu atau kelompok individu yang dilakukan tanpa melewati kontak dan komunikasi.

Di lain sisi, konflik merupakan suatu perlombaan di mana berlangsung kontak sebagai suatu kondisi yang sangat diperlukan.

Max Wber “1968”

Hubungan sosial disebut sebagai konflik jika sepanjang tindakan yang terlibat di dalamnya dilakukan dengan secara sengaja dengan tujuan guna melaksanakan kehendak satu pihak dalam melawan pihak yang lain.

Dengan begitu, konflik diartikan sebagai sebuah hubungan sosial yang diartikan sebagai keinginan guna memaksakan kehendak dari seorang individu ke pihak lain.

A.W. Hijau “1956”

Menurut pendapat dari A.W. Hijau, pengertian dari konflik diartikan sebagai usaha yang disengaja dengan tujuan guna memaksa ataupun melawan kehendak individu ke orang lain.

Sebagai suatu proses, konflik merupakan kebalikan dari kerjasama yang di mana konflik merupakan sebuah upaya yang dilakukan dengan sengaja untuk menggagalkan kehendak dari orang lain.

Gillin Dan Gillin “1948”

Konflik merupakan suatu proses sosial yang di mana seorang individu maupun kelompok meraih tujuan mereka secara langsung dengan cara menantang pihak lain menggunakan kekerasan atau punancaman kekerasan, secara singat, konflik ini bisa dikatakan merujuk kepada perjuangan di antara pihak yang bersaingan, berusaha untuk mencapai, tujuan berusaha guna menghilangkan lawan dengan membuat pihak lain tidak berdaya.

KBBI “1996:518”

Konflik merupakan percekcokan, perselisihan atau pertentangan.

Berstein “1965”

Pengerian konflik menurut Berstein yaitu sebuah perselisihan atua pertentangan ataupun perbedaan yang tidak bisa dicegah, konflik ini pada umumnya memiliki potensi yang memberikan pengaruh positif sekaligus negatif dalam interaksi yang terjadi antar manusia.

Robert M.Z. Lawang

Menurut pendapat dari lawang, pengertian dari konflik merupakan proses perjuangan untuk mendapatkan status, nilai, kekuasaan di mana tujuan mereka yang berkonflik tidak hanya mendaptkan keuntungan, namun juga bisa menundukkan saingannya.

Ariyono Suyono

Konflik adalah sebuat keadaan atau proses yang mana diantara kedua pihak beruapaya untuk menggagalkan pihak lain dalam mencapai tujuannya, hal itu disebabkan karena terdapat perbedaan pendapat, nilai-nilai maupun tuntutan dari masing-masing pihak.

James W. Vander Zanden

Dalam bukunya yang berjudul Sociology, konflik didefinisikan sebagai sebuah pertentangan atau perselisihan tentang nilai atau tuntutan hak atas kekayaan, kekuasaan, status atau wilayah tempat yang saling berhadapan, dengan tujuan guna menetralkan, merugikan maupun menyisihkan lawan mereka.

Lacey “2003”

Menurut pendapat dari Lacey, konflik diibaratkan sebagai

“a fight, a collision, a struggle, a contest, opposition of interest, opinion or purposes, mental strife, agony”

Yang dalam bahasa Indonesia berarti “suatu pertarungan benturan, pergulatan, pertentangan kepentingan-kepentngan, opini-opini atau tujuan-tujuan, pergulatan mental, penderitaan batin”.

Konflik memang telah melekat erat dalam dinamika kehidupan masyarakat, sehingga manusia dituntut supaya selalu berjuang dengan menghadapai adanya konflik tersebut.

Zein “2001”

Menurut pendapat dari Zein, konflik adalah:

  • Suatu pertandingan atau perdebatan dengan tujuan untuk memenangkan sesuatu.
  • Ketidak setujuan pada sesuatu, argumentasi, pertengkaran ataupun perdebatan.
  • Perjuangan, peperangan maupun konfrontasi.
  • Keadaan yang rusuh, ketidakstabilan gejolak ataupun kekacauan.

Gibson, et al (1997: 437)

Gibson menuturkan, konflik adalah sebuah hubungan selain bisa melahirkan adanya kerjasama, hubungan saling tergantung, namun bisa juga dapat menimbulkan terjadinya konflik.

Hal ini berlangsung apabila masing – masing dari komponen organisasi mempunyai suatu kepentingan atau tujuan sendiri – sendiri yang berbeda serta tidak dapat bekerjasama dengan satu sama lain.

Taquiri dalam Newstorm dan Davis (1977)

Konflik merupakan sebuah warisan kehidupan sosial yang dapat berlaku di dalam berbagai keadaan akibat daripada berbangkitnya keadaan ketidaksetujuan, kontroversi serta pertentangan di antara dua pihak atau lebih secara berkelanjutan.

Devito (1995: 381)

Pengertian konflik menurut pendapat yang dilontarkan oleh Devito merupakan sebuah interaksi yang disebut komunikasi antara individu yang terjadi antara satu dengan yang lainnya, dan tidak bisa disangkal akan memicu terjadinya konflik dalam tingkatan yang berbeda.

Peter Harris dan Ben Relly (1998),

Mereka beranggapan bahwasannya sifat konflik yang tajam di dunia sudah berubah dalam satu dekade terakhir, baik itu dalam inti permasalahan ataupun dalam bentuk pengekspresiannya.

Salah satu perubahan yang paling dramatis merupakan perpindahan atau pergeseran dari konflik antar negara yang tradisional (perang antar negara berdaulat) menuju ke dalam konflik pada negara.

Beberapa konflik yang terkejam sepanjang abad ke-20 merupakan konflik yang terjadi antar negara.

Meski demikian, di tahun 1990-an hampir semua konflik besar di belahan dunia berlangsung dalam negara atau konflik internal, sebagai contoh: perang saudara, pemberontakan bersenjata, gerakan separatis dengan kekerasan, serta peperangan domestik lainnya.

Kartono

Kartono menyebutkan bahwa konflik merupakan sutu proses sosial yang sifatnya antagonistik dan terkadang tidak dapat diselaraskan sebab kedua belah pihak yang sedang berkonflik mempunyai tujuan, sikap, dan juga struktur nilai yang berbeda, dan hal itu tercermin dalam berbagai bentuk perilaku perlawanan, baik itu yang halus, terkontrol, tersembunyi, tidak langsung, terkamuflase ataupun yang terbuka dalam bentuk tindak kekerasan.

Konflik yang berlangsung antar individu, sebagai contoh konflik yang terjadi antara sesama teman di sekolah.

Konflik antara individu dengan kelompok, sebagai contoh konflik antara seorang majikan dengan buruhnya; ataupun konflik antara kelompok dengan kelompok lainnya, para pedagang kaki lima dengan para petugas ketertiban.

Bahkan, konflik bisa juga melibatkan antar negara, seperti konflik yang terjadi antara Irak dengan Amerika.

Konflik Menurut Nardjana (1994)

Konflik Menurut Nardjana merupakan suatu akibat situasi di mana kehendak atau keinginan yang berbeda atau berlawanan antara satu pihak dengan pihak lainnya, sehingga salah satu atau bahkan keduanya akan saling terganggu.

Menurut Killman dan Thomas (1978)

Konflik adalah sebuah kondisi yang terjadi karena adanya rasa ketidak cocokan antar nilai ataupun tujuan-tujuan yang ingin diraih, baik itu dalam diri seorang individu maupun kelompok dalam hubungannya dengan pihak yang lain.

Kondisi yang sudah dikemukakan tersebut dapat mengganggu bahkan dapat pula menghambat tercapainya emosi atau stres yang dapat mempengaruhi efisiensi sekalgis produktivitas dalam kerja. (Wijono,1993, p.4)

Wood, Walace, Zeffane, Schermerhorn, Hunt, dan Osborn (1998:580)

Yang dimaksud dari konflik di dalam ruang lingkup organisasi yaitu:

“Conflictis a situation which two or more people disagree over issues of organisational substance and/or experience some emotional antagonism with one another”

Kurang lebihnya mempunayi arti bahwa konflik merupakan sebuah situasi di mana dua atau banyak orang saling tidak sependapat atau setuju kepda sebuah permasalahan yang berkaitan dengan kepentingan organisasi dan atau dengan munculnya perasaan permusuhan satu dengan yang lainnya.

Stoner

Konflik organisasi merupakan mencakup ketidak sepakatan soal alokasi sumber daya yang langka atau pertentang ataupun peselisihan atas tujuan, status, nilai, persepsi, ataupun kepribadian.(Wahyudi, 2006:17)

Daniel Webster

Daniel Webster mengartikan konflik sebagai:

1. Persaingan atau pertentangan yang terjadi antara pihak-pihak yang merasa tidak cocok antara satu sama lain.

2. Keadaan atau perilaku yang bertentangan (Pickering, 2001).

Wikipedia

Konflik berasal dari kata kerja Latin configere yang berarti saling memukul. Secara sosiologis, konflik diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) di mana salah satu pihak berupaya untuk menyingkirkan pihak lain dengan cara menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya.

Muchlas, 1999

Konflik dipandang sebagai suatu perilaku, konflik sendiri adalah bentuk dari minteraktif yang terjadi dalam tingkatan individual, interpersonal, kelompok ataupun pada tingkatan organisasi.

Konflik ini khusunya yang terjadi dalam tingkatan individual yang sangat dekat hubungannya dengan stres.

Minnery (1985)

Konflik organisasi adalah interaksi antara dua atau lebih antara pihak yang satu dengan yang lain berhubungan dan saling tergantung, tetapi terpisahkan oleh adanya perbedaan tujuan.

Robbins, 1993

Konflik dalam sebuah rganisasi sering terjadi tidak simetris terjadi hanya pada satu pihak yang sadar serta memberikan respon kepada konflik tersebut.

Atau juga, satu pihak mempersepsikan adanya pihak lain yang sudah atau akan menyerang secara negatif.

Robbin, 1996

Adanya konflik dalam suatu organisasi ditentukan oleh persepsi antar individu atau kelompok. Apabila mereka tidak menyadari terjadinya konflik di dalam suatu organisasi maka secara umum dan dapat ditarik kesimpulan bahwa konflik tersebut dianggap tidak ada.

Sebaliknya, apabila mereka mempersepsikan bahwa di dalam organisasi terdapat suatu konflik maka konflik tersebut sudah menjadi kenyataan atau ada.

Pace & Faules, 1994:249

Konflik adalah ekspresi pertikaian yang terjadi antara individu satu dengan individu lain, kelompok satu dengan kelompok lain yang disebabkan karena adanya beragam alasan tertentu.

Dalam anggapan ini, pertikaian akan merujuk adanya perbedaan pada dua atau lebih individu tersebut yang diekspresikan, diingat, dan juga dialami.

Folger & Poole: 1984

Konflik bisa dirasakan, diketahui, diekspresikan lewat perilaku-perilaku komunikas.

Myers,1982:234-237; Kreps, 1986:185; Stewart, 1993:341

Konflik senantisa berpusat kepada beberapa penyebab utama, yaitu tujuan yang ingin dicapai, alokasi sumber – sumber yang dibagikan, keputusan yang diambil, ataupun perilaku pada setiap pihak yang terlibat.

Baca juga: Kelompok Sosial

Nah, udah tau kan apa itu konflik sosial. Ada baiknya jika kita hidup dalam masyarakat menghindari terjadinya konflik ini, supaya akan menciptakan kehidupan yang lebih tenag, tentram dan juga aman damai.

Sekian artikel kali ini, semoga dapat bermanfaat untuk kalian semua ya. Terima kasih telah berkunjung :))

Ahmad Manarul Seorang pemimpi yang ingin bermanfaat untuk banyak orang. Menjadikan pengalaman sebagai guru terbaik. Jangan berhenti belajar!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *