Pakaian Adat Yogyakarta

Share
Comment 0 reply
Pakaian Adat Yogyakarta

Yogyakarta adalah salah satu provinsi yang terkenal akan kekentalan budayanya, baik fisik maupun non fisik termasuk pakaian adat.

Pakaian adat dari Yogyakarta sangatlah menarik untuk dipelajari. Pasalnya terdapat berbagai macam pakaian adat yang memiliki ciri khasnya sendiri.

Daftar Pakaian Adat Yogyakarta

Pakaian Adat Daerah Istimewa Yogyakarta (Kesatrian Ageng)

Pakaian adat Yogyakarta ini dapat dipakai pada saat acara resmi maupun pada saat kegiatan sehari – hari.

Tentunya pakaian adat resmi dan pakaian adat untuk sehari – hari berbeda.

Berikut adalah pakaian adat dari Yogyakarta yang haru kamu ketahui :

1. Kesatrian Ageng

Kesatrian Ageng

Kesatrian ageng adalah pakaian adat dari Yogyakarta yang terdiri dari jas laken, celana panjang, dan kain batik.

Jas laken dari pakaian adat ini terbuat dari bahan beludru berwarna hitam yang dihiasi dengan motif keris dan batik pada bagian tengahnya serta motif keemasan pada bagian pinggirnya.

Celana panjang yang digunakan juga memiliki warna yang sama dengan jas laken, yaitu warna hitam.

Kain batik ini dililitkan memutari pinggul dengan panjang di atas lutut.

Dan tidak lupa dalam pemakaiannya dilengkapi dengan berbagai aksesoris dan hiasan kepala.

Kesatrian Ageng ini merupakan pakaian adat yang digunakan oleh laki – laki pejabat keraton yang sedang bertugas.

Pakaian adat kesatrian ageng dapat melambangkan keanggunan dan sifat berani dari seseorang.

Pakaian adat ini harus dijaga dan dirawat sesuai dengan peraturan dari pihak keraton.

2. Sikep Alit

Sikep Alit

Sikep alit adalah pakaian adat yang digunakan oleh abdi dalem. Abdi dalem sendiri adalah sebutan untuk pegawai keraton.

Sikep alit terdiri dari baju atasan berwarna biru tua dengan kancing baju yang terbuat dari tembaga atau kuningan dan kain batik sawitan.

Pemakaian dari sikep alit ini dilengkapi dengan beberapa aksesoris pendukung seperti destar atau penutup kepala dan keris yang diletakkan di bagian pinggang kanan belakang.

Pakaian adat ini biasanya hanya digunakan pada saat pertemuan khusus atau saat jamuan makan malam di keraton.

3. Langeran

Langeran

Langeran juga merupakan pakaian adat yang digunakan oleh abdi dalem yang terdiri dari baju yang terbuat dari bahan laken, kemeja putih dengan model kerah berdiri, dan juga kain batik.

Pemakaian dari langeran ini dilengkapi dengan beberapa aksesoris pendukung seperti dasi kupu-kupu, keris model gayman atau ladrangan, dan selop berwarna hitam.

Pakaian adat ini juga biasanya hanya digunakan pada saat pertemuan khusus atau saat jamuan makan malam di keraton.

4. Peranakan Atela

Peranakan Atela

Peranakan atela adalah pakaian adat yang juga digunakan oleh abdi dalem.

Dinamakan peranakan karena peranakan memiliki arti tersendiri yaitu agar si pemakai dapat menjalin sebuah persaudaraan layaknya seperti saudara kandung.

Pakaian atela memiliki 2 warna yaitu putih dan hitam yang masing – masing memiliki fungsi tersendiri.

Warna putih biasanya digunakan pada saat upacara – upacara besar. Sedangkan warna hitam biasanya digunakan pada saat acara – acara tertentu di Yogyakarta.

Terdapat 6 buah kancing pada bagian leher dan 5 buah kancing pada bagain ujung lengan.

Jumlah kancing tersebut memiliki filosofi tersendiri, yaitu 6 buah kancing pada bagian leher melambangkan rukun iman, sementara 5 buah kancing pada ujung lengan melambangkan rukun islam.

5. Keprabon

Keprabon

Keprabon adalah pakaian adat Yogyakarta yang biasa digunakan oleh sultan ketika ada acara upacara ageng.

Terdapat 3 jenis pakaian adat keprabon ini, yaitu pakaian dodotan, pakaian kanigaran, dan pakaian kaprajuritan.

Pada umumnya pakaian dodotan hanya akan digunakan ketika ada acara upacara seperti garebeg, jumengeng dalem atau penobatan raja, dan acara pernikahan atau yang dikenalnya dengan pisowana.

Keprabon ini terdiri dari :

  • Kuluk biru yang berhias dari mundri.
  • Kampuh konca setunggal.
  • Timang atau kretep.
  • Moga renda yang mempunyai warna kuning.
  • Rante.
  • Pethat jeruk sak ajar.
  • Dana chinde gubeg.
  • Karset.
  • Keris branggah.

6. Kebaya Beludru

Kebaya Beludru

Kebaya beludru adalah kebaya yang digunakan oleh para wanita di Yogyakarta yang dapat melambangkan tindak tanduk wanita yang harus lemah lembut.

Kebaya ini sama seperti kebaya Jawa pada umumnya. Hanya saja kebaya Yogyakarta ini berbahan beludru dan cenderung berwarna hitam.

Kebaya ini juga tersedia dengan bahan selain beludru, yaitu berbahan sutra, katun, dan lain sebagainya.

Pemakaian dari kebaya ini biasanya dipadukan dengan kain jarik yang memiliki motif khas Jogja.

Tidak lupa juga dilengkapi dengan berbagai macam aksesoris diantaranya adalah sebagai berikut ini :

  • Konde yang dapat merapikan tatanan rambut.
  • Sanggul berwarna merah, hijau, dan kuning yang dapat melambangkan trimurti atau 3 dewa kehidupan.
  • Sisir berbentuk gunung yang dapat melambangkan keagungan Tuhan dan harapan terciptanya sebuah harapan.
  • Kalung 3 susun yang dapat melambangkan 3 tingkat kehidupan manusia, yaitu lahir, menitah, dan kematian.
  • Gelang tanpa ujung pangkal yang dapat melambangkan keabadian.

7. Surjan

Surjan

Surjan merupakan pakaian adat Yogyakarta yang sering digunakan oleh laki – laki untuk upacara Grebeg.

Surjan juga disebut dengan Pakaian Takwa oleh masyarakat Yogyakarta.

Motif surjan sangat beragam, namun yang paling sering digunakan adalah surjan dengan motif garis – garis berwarna coklat dan hitam.

Biasanya surjan dipadukan dengan kain jarik yang memiliki motif khas Jogja dan dilengkapi dengan blangkon sebagai aksesoris kepala serta sandal atau alas kaki.

Terdapat 6 buah kancing pada bagian leher dan 2 buah kancing pada bagain dada sebelah kanan dan kiri.

Jumlah kancing tersebut memiliki filosofi tersendiri, yaitu 6 buah kancing pada bagian leher melambangkan rukun iman, sementara 2 buah kancing pada bagian dada melambangkan 2 kalimat syahadat.

Surjan juga mitos, yaitu jika ada orang yang memakai surjan dengan baik, benar, dan lengkap dengan tamabahan kain batik, tali, stagen, dan ikat pinggang. Maka berat badan si pemakainya akan menjadi stabil.

8. Jarik

Jarik Yogyakarta

Kain Jarik adalah kain yang memang dikenal sebagai pakaian adat khas Jawa, termasuk Yogyakarta.

Jarik juga memiliki motif yang sangat beragam khas dari Yogyakarta. Motif jarik yang paling terkenal adalah sidomukti, sidomulyo, dan sekar jagad.

Kain jarik ini dapat digunakan untuk laki – laki maupun perempuan.

9. Samekanan dan Samekanan Tritik

Samekanan dan Samekanan Tritik

Samekanan adalah pakaian adat yang digunakan oleh putri raja yang terdiri dari kebaya katun, kain batik, kain penutup dada yang panjang dan lebar.

Pemakaian dari samekanan ini disertai dengan berbagai macam aksesoris seperti sanggul rambut tanpa hiasan apapun, selendang, subang, gelang, dan juga cincin.

Sedangkan samekanan tritik adalah pakaian adat yang digunakan oleh putri raja yang sudah menikah.

Samekanan tritik hampir sama seperti samekanan biasa, yaitu terdiri dari baju kebaya, kain batik atau jarik.

Hanya saja aksesoris yang digunakan cukup mewah, yaitu sanggul polos, selendang, sapu tangan yang berwarna merah, subang, cincin, dan juga gelang.

10. Kencongan

Kencongan

Kencongan adalah pakaian adat yang digunakan oleh anak laki – laki di Yogyakarta.

Pemakaian dari kencongan ini disertai dengan berbagai macam aksesoris seperti selendang dan ikat pinggang atau sabuk.

11. Sabukwala Padintenan

Sabukwala Padintenan

Sabukwala padintenan adalah pakaian adat yang digunakan oleh anak perempuan di Yogyakarta.

Pakaian adat ini terdiri dari baju atasan yang berupa kebaya katun dan kain batik bermotif parang atau bulatan.

Pemakaian dari sabukwala padintenan ini disertai dengan berbagai macam aksesoris diantaranya adalah sebagai berikut ini :

  • Sanggul rambut.
  • Selendang.
  • Ikat pinggang atau sabuk dengan bentuk kupu – kupu, merak, atau burung garuda berwarna perak.
  • Kalung emas yang lengkap dengan liontin mata uang.
  • Gelang emas yang memiliki bentuk seperti ular.

Sabukwala padintenan ini dibagi menjadi 3, yaitu sabukwala nyamping batik, sabukwala nyamping praos, dan sabukwala nyamping cindhe.

Keunikan Pakaian Adat Yogyakarta

Keunikan Pakaian Adat Yogyakarta

Sama seperti pakaian adat dari daerah lain, pakaian adat dari Yogyakarta juga memiliki keunikan tersendiri, diantaranya adalah sebagai berikut ini :

  1. Bahan yang di gunakanya adalah bahan yang memang memiliki tekstur berbeda dari pada pakaian adat yang lainya.
  2. Identik dengan bahan beludru warna hitam.
  3. Motif garis warna kuning tua dengan pelisir atau pita dari benang yang memiliki warna kuning keemasan.
  4. Memiliki 5 fungsi yang terdapat pada kebaya, yaitu praktis, estestis, religius, sosial, dan simbolik.
  5. Terdapat sisir gunungan, mentul sebuah, dan rambut ukel terlepas.

Kesimpulan

Yogyakarta sangat terkenal dengan kekentalan budayanya, mulai dari fisik maupun non fisik yang hingga saat ini masih sangat terjaga.

Tidak heran jika Yogyakarta banyak dikunjungi oleh wisatawan yang ingin mengetahui pakaian adat, tempat wisata, maupun kebudayaan lainnya.

Artikel Lainnya
Mungkin kamu juga suka artikel ini.