Majas Repetisi

Share
Comment 0 reply
Majas Repetisi

Seperti yang telah kita ketahui sebelumnya, majas mempunyai banyak sekali ragam dan jenisnya, salah satunya adalah majas repetisi.

Majas sendiri merupakan suatu gaya bahasa yang berwujud kiasan, ibarat serta perumpamaan yang bertujuan guna memperindah arti dan juga pesan di dalam suatu kalimat.

Pada kesempatan kali ini, kita akan membahas secara lebih lanjut terkait majas repetisi. Simak baik – baik ya.

Pengertian Majas Repetisi

majas repetisi adalah dan contohnya

1. Secara Umum

Majas repetisi merupakan suatu pengulangan kata maupun frasa di dalam sebuah karya sastra dengan tujuan untuk mempertegas sebuah makna.

Pengulangan yang ada di dalam puisi atau lagu bertujuan untuk menciptakan sebuah ritme.

2. Menurut Para Ahli

Berikut ini adalah beberapa pengertian dari majas repetisi yang dikemukakan oleh para ahli, antara lain:

a. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) versi Kemendikbud

Repetisi merupakan suatu gaya bahasa atau majas yang memakai kata kunci dan bisa terdapat di awal kalimat untuk mencapai efek tertentu di dalam penyampaian makna ulangan (sandiwara atau lainnya).

b. Rika Lestari di dalam buku Ringkasan dan Pembahasan Soal Bahasa Indonesia SMP

Repetisi merupakan suatu majas yang menggambarkan sebuah hal dengan mengulang kata maupun beberapa kata secara berkali – kali.

c. Ainia Prihantini di dalam Majas, Idiom, dan Peribahasa Indonesia Superlengkap

Repetisi merupakan suatu majas yang berwujud pengulangan kata maupun kelompok kata yang sama dengan maksud untuk menarik perhatian atau memiliki sifat sebagai penegasan.

Dari pengertian di atas, maka dapat kita simpulkan bahwa majas repetisi juga dapat diartikan sebagai sebuah cara memperkuat makna atau maksud dengan cara mengulang kata maupun bagian kalimat yang akan diperkuat maksudnya tersebut.

Tujuan dan Fungsi Majas Repetisi

contoh majas repetisi adalah

Fungsi paling umum ialah digunakan untuk menulis puisi.

Di mana jenis majas ini menjadi alat puitis murni serta memiliki fungsi paling penting untuk memberikan tekanan serta menciptakan ritme.

Pada saat suatu baris/ frasa berulang di dalam suatu puisi/ sepotong sastra, maka hal itu dapat menjadi nyata untuk para penikmatnya.

Dengan memakai majas ini, penyair juga bisa membuat ide – ide mereka menjadi mudah diingat serta menarik perhatian pembaca ke arah ide tertentu.

Selain itu, majas repitis ini juga mempunyai beberapa tujuan khusus seperti:

  • Berbagai tokoh pidato yang memakai majas ini pada umumnya untuk mengulangi kata tunggal atau frasa pendek. Namun sebagian orang juga ada yang melakukan pengulangan seluruh kalimat.
  • Informasi berulang sudah ditunjukkan secara ilmiah untuk meningkatkan kemungkinan dalam mengubah pikiran orang. Kekuatan pengulangan persuasif ialah salah satu alasan hal tersebut sangat umum.
  • Menjadi alat retoris yang umum dipakai untuk menambah penekanan serta tekanan di dalam penulisan atau berbicara.
  • Membantu untuk menekankan pemikiran akan poin penting yang hendak disampaikan.
  • Untuk mengembangkan gaya, nada, dan juga ritme.

Ciri – Ciri Majas Repetisi

contoh majas repetisi brainly

Berikut ini adalah beberapa ciri dari majas repetisi, antara lain:

  • Adanya pengulangan sebuah kalimat atau kata supaya karya itu nampak menonjol serta memperoleh perhatian dari pendengar atau pembaca.
  • Banyak dipakai dalam literatur, buku, karya sastra, karya tulis, hingga pidato.
  • Memiliki suatu penekanan. Pengulangan kata berfungsi untuk menyoroti pentingnya dalam sebuah teks serta sebagai ide.
  • Pengulangan secara umum ada pada penulisan fiksi serta nonfiksi, penulisan persuasif, penulisan kreatif, tulisan formal atau informal. Sebab majas ini dapat dijumpai pada seluruh gaya, genre, serta bentuk sastra.
  • Biasanya memiliki ritme alami dalam suatu kalimat.
  • Pada umumnya bersifat persuasi.

Jenis dan Contoh Majas Repetisi

kata berulang

Berikut ini adalah beberapa jenis majas repetisi beserta contohnya, antara lain:

1. Majas Repetisi Epizeuksis

Epizeuksis berasal dari bahasa Yunani epizeugnumi yang artinya “ikatan bersama”.

Untuk epizeuksis sendiri adalah suatu wujud pengulangan yang mana sebuah kata atau frasa pendek diulang secara berturut – turut tanpa kata lain di antaranya.

Kata yang menggunakan epizeuksis memiliki sifat yang keras dan kuat, di mana pada umumnya menandakan banyaknya emosi yang diungkapkan.

Majas repetisi epizeuksis memiliki dua karakteristik khusus, yaitu:

  • Pengulangan langsung dari kata/ frasa yang sama di dalam epizeuksis secara blak – blakan dan kuat, namun untuk alasan yang sama harus dipakai secara hemat.
  • Di dalam pidato, epizeuxis pada umumnya bersifat keras, kuat, serta memotivasi. Namun tak jarang juga memiliki fungsi sebagai seruan.

Contoh kalimat:

  • Terdengar suara berbisik, “ibu, ibu, ibu”. Aku kemudian merasa bingung waktu itu terdengar lagi.
  • Aku akan terus berusaha, berusaha, serta berusaha supaya dapat meraih cita – cita
  • Jangan menyerah, jangan menyerah, jangan menyerah kepada hal yang memang kalian sangat antusias untuk memperolehnya

2. Majas Repetisi Tautoles

Majas ini menggunakan kata – kata yang diulang serta membentuk suatu konstruksi.

Contoh kalimat:

  • Kakek suka makan sirih, nenek suka makan sirih, kakak dan nenek sama saja.
  • Aku memukulku, kau memukulmu, kau dan aku berseteru.
  • Bajuku baru, baju kakak baru, bajuku dan baju kakak baru.

3. Majas Repetisi Epanolepsis

Majas ini menggunakan pengulangan kata di awal serta di akhir kalimat sama, dengan ciri khusus seperti berikut:

  • Menekankan beberapa kata tertentu tak hanya dengan mengulanginya, namun juga dengan menempatkannya pada posisi yang menonjol pada awal serta akhir kalimat.
  • Istilah epanalepsis tak hanya berlaku pada kata – kata pertama serta terakhir dari sebuah kalimat atau klausa. Itu juga dapat merujuk kepada pengulangan yang ada sangat dekat pada awal atau akhir kalimat atau klausa, serta di dua kalimat terpisah.

Contoh kalimat:

  • Di tengah malam kalian keluar dari rumah, serta kembali lagi di tengah malam.
  • Tidak percaya terkait apa yang semua kau dengar. Katakanlah seluruhnya tidak kau percayai.
  • Impian ini milikmu. Tak ada yang dapat meraih impianmu kecuali kamu sendiri.

4. Majas Repetisi Mesodilopsis

Pengulangan di dalam majas ini terjadi secara tak langsung.

Pengulangan dapat saja ada di beberapa kata atau tengah – tengah kalimat atau bahkan di kalimat yang berurutan.

Contoh kalimat:

  • Ia masih saja mengingat, mengingat dan selalu mengingat kelemahan temannya.
  • Jamuan tuan rumah tersebut sangat sopan, sangat apik, serta sangat memuliakan sang tamu.
  • Mimpi menjadi suatu angan – angan, mimpi patut untuk menjadi penantian, mimpi memang harus dikejar.

5. Jenis Lainnya

Selain beberapa jenis di atas, majas repetisi juga mempunyai beberapa jenis lainnya seperti berikut ini:

  • Aliterasi: Pengulangan suara awal sama.
  • Anadiplosis: Mengulangi kata terakhir pada awal kalimat selanjutnya.
  • Anacephalaeosis: Ringkasan fakta yang diketahui.
  • Antanaclasis: Mengulangi kata yang sama namun arti yang berubah.
  • Anaphora: Mengulangi kata – kata awal.
  • Antistrophe: Mengulangi kata terakhir bersama frase yang berurutan.
  • Antimetabole: Klausa berulang, membalik urutan suatu kata.
  • Auxesis: Peningkatan dari kepentingan.
  • Asonansi: Mengulangi bunyi vokal yang sama.
  • Chiasmus: Dua frasa dengan pembalikan pada beberapa tempat.
  • Correctio: Koreksi guna merevisi arti.
  • Consonance: Mengulangi suara konsonan.
  • Epanados: Mengulangi kata – kata dengan urutan terbalik.
  • Dysrhythmia: Memutus pola ritmis.
  • Epizeuxis: Pengulangan kata yang penuh semangat.
  • Epistrof: Pengulangan kata maupun frasa terakhir yang sama.
  • Homoioteleuton: Akhiran yang menyerupai kata – kata yang berdekatan/ paralel.
  • Exergasia: Menyatakan lagi sebuah titik dengan menggunakan kata yang berbeda.
  • Inclusio: Memakai verba untuk sebuah bagian dengan kata – kata yang sama.
  • Hypozeuxis: Setiap klausa mempunyai subjek serta kata kerja sendiri.
  • Paralelisme: Pola berulang di dalam suatu kalimat.
  • Parachesis: Mengulangi suara yang sama dengan kata – kata yang berurutan.
  • Parison: Pola pencocokan dari lintas struktur.
  • Paregmenon: Pengulangan kata – kata dari akar yang sama.
  • Paroemion: Aliterasi berlebihan.
  • Parisosis: Jumlah suku kata yang sama di dalam sebuah klausa.
  • Polyptoton: Pengulangan pada beragam bentuk.
  • Paromoiosis: Bunyi serupa dalam dua klausa.
  • Repetitio: Mengulang satu kata.
  • Polysyndeton: Pengulangan konjungsi.
  • Sinonimia: Sinonim berulang untuk amplifikasi.
  • Sajak: Mengulangi suara pada akhir kata.
  • Tricolon: Tiga komponen yang meningkatkan daya.
  • Tautologi: Mengulangi arti, tidak perlu.
Artikel Lainnya
Mungkin kamu juga suka artikel ini.