Majas Asosiasi

Majas pada umumnya dipakai di dalam karya sastra, lagu hingga di dalam kehidupan sehari – hari, salah satu majas tersebut adalah majas asosiasi.

Gaya bahasa atau lebih akrab disebut sebagai majas ini adalah salah satu ragam bahasa untuk mendapatkan efek tertentu yang membuat kalimat di dalam karya sastra itu menjadi semakin hidup.

Majas sendiri mempunyai tujuan untuk membuat pembaca atau para penikmat karya seni merasakan emosi dari sebuah karya lewat gaya bahasa yang dipakai oleh seniman atau penulis pada umumnya.

Dan kali ini, kita akan membahas secara lebih rinci terkait gaya bahasa asosiasi, simak baik – baik ya.

Pengertian Majas Asosiasi

majas asosiasi contohnya

Majas asosiasi adalah salah satu dari beberapa jenis majas yang dipakai di dalam Bahasa Indonesia.

Pemakaian dari gayabahasa asosiasi ini ketika bertutur kata serta penulisan juga sangat banyak ditemukan. Tujuannya supaya lawan bicara serta pembaca akan menjadi lebih tertarik.

Jenis majas asosiasi termasuk ke dalam salah satu kategori majas perbandingan. Di mana ketegori tersebut akan menonjolkan perbandingan kata yang mengutarakan sebuah gagasan atau ide.

Yang membuatnya unik, majas asosiasi ini juga memakai perumpamaan atau peribahasa di dalam perbandingannya.

Ada pun beberapa pengertian majas asosiasi menurut para ahli seperti:

a. Menurut Kiftiawati Sulistyo dan Endry Sulistyo di daam Buku Pintar Peribahasa Indonesia (2007:362)

Ia menuliskan bahwa majas asosiasi merupakan suatu gaya bahasa yang digunakan untuk membandingkan suatu hal dengan suatu hal (di kondisi yang lain) sebab bersifat sama.

b. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

Pengertian di atas juga senada dengan pengertian kata “asosiasi”  dari KBBI yang menyebutkan bahwa arti asosiasi ialah suatu tautan (penghubungan) ingatan pada orang atau barang lain sehingga akan menimbulkan suatu sebuah hubungan tertentu yang bersifat mempunyai kesamaan.

Ciri – Ciri Majas Asosiasi

majas asosiasi adalah brainly

Gaya bahasa asosiasi mempunyai beberapa ciri yang hampir menyerupai majas simile, yakni keduanya sama – sama memakai kata penghubung.

Namun yang membedakannya yakni pada majas asosiasi tidak menerangkan kalimatnya secara eksplisit (terus terang) seperti kalimat yang menggunakan majas simile.

Majas jenis ini mempunyai makna implisit (tersirat), sehingga pada saat menafsirkan seseorang serta orang lainnya bisa berbeda.

Berikut ini adalah beberapa ciri khusus yang ada pada majas asosiasi, antara lain:

  • Memakai suatu kata penghubung, sebagai contoh: Seperti, laksana, bak, dan yang lainnya.
  • Menerangkan suatu kalimat dengan memakai makna implisit (tersirat), sehingga pada waktu menafsirkan seseorang bisa menimbulkan opini yang berbeda.

Contoh Majas Asosiasi

gaya bahasa

Untuk memudahkan kalian dalam mempelajari uraian yang ada di atas, berikut ini kami berikan contoh majas asosiasi dalam bentuk kalimat, antara lain:

  • Mana berani aku menantangnya, pukulannya bak samson.
  • Matanya indah nampak seperti bintang kejora.
  • Gaya berjalannya seperti seorang putri solo.
  • Kepala sekolah disana seperti seekor singa yang menguasai hutan.
  • Kepala sekolah disana seperti seekor singa yang menguasai hutan.
  • Bibirnya manis namun omongannya macam cabai rawit.
  • Larinya seperti rusa.
  • Pertolonganmu seperti oase yang ada di padang pasir.
  • Tangannya seperti baja.
  • Dia pintar bak tukang sihir di film.
  • Otaknya encer bagaikan air.
  • Kau akan cepat sakit jika cara kerjamu seperti mesin seperti itu.
  • Pikirannya macam otak si kancil.
  • Sungguh indah untuk memandang badannya, bagus bagaikan gitar.
  • Tingkah lakunya bagaikan ular kobra.
  • Senyumannya seperti embun pagi.
  • Gilang cepat sekali berhitung bagaikan kalkulator hidup.
  • Orang kota banyak yang bekerja bagaikan kelelawar.
  • Bagaimana aku tidak bangun, suaramu aja seperti petir.
  • Kalian berdua seperti amplop dengan perangko.
  • Tatapanmu macam macan Asia.
  • Gila, pelari disana melesat bak anak panah.
  • Wajahmu laksana sinar rembulan.
  • Langkah kakimu seperti gajah yang berlari.
  • Semangatnya keras seperti baja.
  • Wajahnya seumpama pinang yang dibelah dua.
  • Bagai laksana yang tidak bertuan.
  • Kulitnya hitam bagaikan arang.
  • Hidupnya gelap laksana malam yang tidak memiliki bintang.
  • Harinya cerah bagaikan lampu pijar.
  • Rambutnya jingga seumpama senja di ujung hari.
  • Aku goyah seperti burung yang baru belajar terbang.
  • Wajahnya lusuh seperti baju yang belum disetrika.
  • Ia cepat bagai singa yang tengah mengejar mangsa
  • Ia rebahan bagaikan tulang belulang yang hanya ada nyawanya.
  • Ia rapuh seperti ranting yang tumbuh di atas pohon.
Photo of author

Ahmad

Pemuda yang senang belajar dan berbagi dengan sesama

Tinggalkan komentar