Doa Hari Jumat

6 min read

doa hari jumat

Bagi umat Islam hari jumat adalah hari yang istimewa dan penuh keberkahan serta banyak waktu mustajab untuk berdoa. Oleh karena itu kita sebagai umat Islam harus membaca doa hari jumat.

Banyak peristiwa yang terjadi di hari jumat seperti Nabi Adam diciptakan dan dicabut nyawanya oleh Allah SWT, terompet Malaikat Israfil ditiupkan, berakhirnya kehidupan manusia di dunia, dan beberapa peristiwa lainnya.

Hari jumat juga disebut sebagai sayidul ayyam atau rajanya hari. Karena pada hari jumat semua ibadah yang dikerjakan akan mendapat nilai lebih utama dibandingkan dengan dilakukan di hari – hari lainnya.

Dan pada hari jumat ini hendaknya para umat Islam memperbanyak sholat, berdzikir, berdoa, dan ibadah yang lainnya. Karena berdoa di hari jumat akan lebih mudah dikabulkan oleh Allah SWT dibanding dengan hari yang lainnya.

Namun pada hari jumat sendiri juga ada beberapa waktu mustajab terkabulnya doa, yaitu :

  1. Pada saat antara duduknya imam sampai selesainya sholat jumat.
  2. Setelah waktu ashar sampai menjelang maghrib.

Doa Hari Jumat

Sebenarnya tidak ada doa khusus untuk hari jumat ini, kita boleh berdoa apa saja sesuai yang kita inginkan. Intinya jika berdoa kita harus berharap hanya kepada Allah SWT agar doa yang kita panjatkan segera terkabul.

Namun ada suatu doa yang dijanjikan oleh Rasulullah SAW kepada para umatnya, jika doa ini dibaca di hari jumat baik siang maupun malam sebanyak 7x, maka Allah SWT akan memasukkan ke dalam surga-Nya.

Berikut adalah doa hari jumat :

doa hari jumat pagi

اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لا إِلَهَ إِلا أَنْتَ خَلَقْتَنِي ، وَأَنَا عَبْدُكَ وَابْنُ أَمَتِكَ ، وَفِي قَبْضَتِكَ ، وَناصِيَتِي بِيَدِكَ ، أَمْسَيْتُ عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ أَبُوءُ بِنِعْمَتِكَ ، وَأَبُوءُ بِذَنْبِي ، فَاغْفِرْ لِي ذُنُوبِي إِنَّهُ لا يَغْفِرُ الذُّنُوبُ إِلا أَنْتَ

Allahumma anta rabbi laa ilaaha illa anta khalaqtani, wa ana abduka wabnu amatika wafi qabdhotika wa nasiyati bi yadika.

Amsaitu ala ahdika wa wa’dika mastatho’tu audzu bika min syarri ma shona’tu.

Abu’u bi ni’matika wa abu’u bidzanbi faghfirly dzunubi. Innahu la yaghfirudz dzunuba illa anta.

Artinya :

“Ya Allah, Ya Tuhanku, tidak ada Tuhan yang aku sembah kecuali Engkau yang telah menciptakanku. Menciptakanku sebagai hambamu dan anak dari hamba sahayamu.

Hidupku ada dalam genggaman-Mu. Aku hidup atas janji dan ancaman-Mu. Selama aku bisa, aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan yang telah aku perbuat.

Aku telah menyia – nyiakan nikmatmu. Dan aku berbuat dosa. Maka ampunilah dosaku. Sesungguhnya tidak ada yang bisa mengampuni dosa kecuali Engkau.”

Ada pun doa lain untuk hari jumat yang ada di dalam kitab Mafatihul Jinan yang juga merupakan doa Imam Ali Zainal Abidin, yaitu :

اَلْحَمْدُ للهِ الاْوَّلِ قَبْلَ الاْنْشاءِ وَالاْحْياءِ، وَالاْخِرِ بَعْدَ فَناءِ الاْشْياءِ، الْعَليمِ الَّذى لا يَنْسى مَنْ ذَكَرَهُ، وَلا يَنْقُصُ مَنْ شَكَرَهُ، وَلا يَخيبُ مَنْ دَعاهُ، وَلا يَقْطَعُ رَجاءَ مَنْ رَجاهُ.

اَللّهُمَّ اِنّى اُشْهِدُكَ وَكَفى بِكَ شَهيداً، وَاُشْهِدُ جَميعَ مَلائِكَتِكَ وَسُكّانَ سَماواتِكَ وَ حَمَلَةَ عَرْشِكَ وَمَنْ بَعَثْتَ مِنْ اَنْبِيائِكَ وَرُسُلِكَ وَاَنْشَأْتَ مِنْ اَصْنافِ خَلْقِكَ.

اَنّي اَشْهَدُ اَنَّكَ اَنْتَ اللهُ لا اِلهَ اِلاّ اَنْتَ وَحْدَكَ لا شَريكَ لَكَ وَلا عَديلَ وَلا خُلْفَ لِقَوْلِكَ وَلا تَبْديلَ، وَاَنَّ مُحَمَّداً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ عَبْدُكَ وَرَسُولُكَ، اَدّى ما حَمَّلْتَهُ اِلَى العِبادِ، وَجاهَدَ فِي اللهِ عَزَّ وَجَلَّ حَقَّ الْجِهادِ، وَاَنَّهُ بَشَّرَ بِما هُوَ حَقٌّ مِنَ الثَّوابِ، وَاَنْذَرَ بِما هُوَ صِدْقٌ مِنَ الْعِقابِ.

اَللّهُمَّ ثَبِّتْني عَلى دينِكَ ما اَحْيَيْتَني، وَلا تُزِغْ قَلْبي بَعْدَ اِذْ هَدَيْتَني، وَهَبْ لي مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً اِنَّكَ اَنْتَ الْوَهّابُ، صَلِّ عَلى مُحَمَّد وَعَلى آلِ مُحَمَّد، وَاجْعَلْني مِنْ اَتْباعِهِ وَشيعَتِهِ، وَاحْشُرْني في زُمْرَتِهِ، وَوَفِّقْني لاِداءِ فَرْضِ الْجُمُعاتِ وَما اَوْجَبْتَ عَلَيَّ فيها مِنَ الطّاعاتِ وَقَسَمْتَ لاِهْلِها مِنَ الْعَطاءِ في يَوْمِ الْجَزاءِ، اِنَّكَ اَنْتَ الْعَزيزُ الْحَكيمُ.

Alhamdulillihil awwali qablal insya-i wa ihya-i’ wal akhiri ba’da fana-il asyya-i al-‘alimil lazi la yansa man zakarahu wala yanqushu man syakarahu wala yakhibu man da’ahu wala yaqtho’u rajahu.

Allahumma inni usyhiduka wa kafa bika syahida usyhidu jami’a mala-ikatika wa sukkana samawatika wa hamlata ‘arsyika wa man ba’atsta min anbiya-ika wa rusulika wa ansya’ta min ashnafi kholqika.

Inni asyhadu annaka antallahu la ilaha illa anta wahdaka la syarika laka wala ‘adila wala khulfa liqoulika wala tabdila wa anna muhammadan shallallahu ‘alaihi wa alihi ‘abduka wa rasuluka adda ma hammaltahu ilal ‘ibadi.

Wa jahada fillahi ‘azza wa jalla haqqal jihadi wa annahu basysyara bima huwa haqqun minats tsawabi wa anzara bima huwa shidqun minal ‘iqobi.

Allahumma tsabbitni ‘ala dinika ma ahyaitani wala tuzigh qolbi ba’da-iz hadaitani wa habli milladunka rahmatan innaka antal wahhab sholli ‘ala muhammadin wa ‘ala ali muhammad.

Waj’alni min atba’ihi wa syi’atihi wahsyurni fi zumratihi wa waffiqni li ada-i fardhil jumu’ati wa ma awjabta ‘alayya fiha minath tha’ati wa qasamta li ahliha minal ‘atho-i fi yaumil jaza’ innaka antal ‘azizul hakim.

Artinya :

“Segal puji bagi Allah, yang awal sebelum penciptaan dan penghidupan, yang akhir setelah punah semua, yang Maha mengetahui. Yang tak melupakan orang yang mengingat-Nya, yang tidak merugikan orang yang mensyukuri-Nya. Yang tidak mengecewakan orang yang memohon pada-Nya, yang tidak memutuskan harap orang yang mengharap-Nya.

Ya Allah, aku mintakan kesaksian-Mu dan cukuplah Engkau sebagai saksi. Aku mintakan kesaksian seluruh malaikat-Mu penghuni langit-Mu dan pemikul arasy-Mu. Serta yang Engkau bangkitkan sebagai nabi dan rasul-Mu dan yang Engkau ciptakan dari berbagai makhluk-Mu.

Aku bersaksi, sesungguhnya Engkau Allah, tiada Tuhan kecuali Engkau, tunggal tidak ada sekutu, dan tidak ada bertara firman-Mu. Tak berubah dan tak terganti, dan sesungguhnya Muhammad SAW adalah hamba-Mu dan rasul-Mu. Ia penuhi apa yang Engkau bebankan padanya untuk semua hamba, ia berjihad di jalan Allah dengan jihad yang sebenarnya. Ia memberi kabar gembira tentang pahala yang sejati, ia mengancam dengan siksa yang sesungguhnya.

Ya Allah, teguhkan aku pada agama-Mu selama Engkau hidupkan aku. Janganlah gelincirkan hatiku setelah Engkau tunjuki aku. Karuniakan padaku rahmat dari sisi-Mu.

Sungguh, Engkaulah Maha Pemberi. Sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluarganya, jadikanlah aku bagian dari pengikut dan golongannya.

Kumpulkan aku pada kelompoknya, bimbinglah aku untuk melaksanakan kewajiban Jumat. Yang Engkau wajibkan kepadaku untuk aku taati dan Engkau bagikan karunia pada hari pembalasan pada orang yang layak menerimanya. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Gagah dan Maha Bijaksana.”

Amalan Hari Jumat

Terdapat pula beberapa amalan yang dianjurkan dilakukan di hari jumat, di antaranya adalah :

  1. Membaca surat Al – Kahfi.
  2. Membaca surat Yasin.
  3. Membaca doa tertentu.
Mungkin anda juga membutuhkan Doa Pagi Hari

Hadist Berdoa di Hari Jumat

Terdapat beberapa hadist yang menjelaskan tentang keutamaan dan waktu berdoa di hari jumat, yaitu :

Rasulullah SAW bersabda :

“Siapapun yang membaca doa tersebut di pagi hari jumat, kemudian ia meninggal, maka ia akan mendapatkan surga-Nya. Tentu, semua ini bisa terjadi jika Allah SWT menghendaki dan meridhainya.”

Rasulullah SAW bersabda :

يَوْمُ الْجُمُعَةِ اثْنَتَا عَشْرَةَ سَاعَةً لاَ يُوجَدُ فِيهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللهَ شَيْئًا إِلاَّ آتَاهُ إِيَّاهُ فَالْتَمِسُوهَا آخِرَ سَاعَةٍ بَعْدَ الْعَصْرِ

“Pada hari jumat terdapat dua belas jam pada siang hari, di antara waktu itu ada waktu yang tidak ada seorang hamba muslim pun memohon sesuatu kepada Allah SWT melainkan Dia akan mengabulkan permintaannya. Oleh karena itu, carilah ia di akhir waktu setelah ashar.” (HR Abu Dawud)

Iman Ahmad, ia berkata :

قال الإمام أحمد : أكثر الأحاديث في الساعة التي تُرجى فيها إجابة الدعوة : أنها بعد صلاة العصر ، وتُرجى بعد زوال الشمس . ونقله عنه الترمذي

“Kebanyakan hadits mengenai waktu yang diharapkan terkabulnya doa adalah ba’da ashar dan setelah matahari bergeser atau waktu sholat jumat.”

Ibnul Qayyim, ia berkata :

وهذه الساعة هي آخر ساعة بعد العصر، يُعَظِّمُها جميع أهل الملل

“Waktu ini adalah akhir waktu ashar dan diagungkan oleh semua orang yang beragama.” (Zadul Ma’ad 1/384)

Ibnul Qayyim, ia berkata :

كان سعيد بن جبير إذا صلى العصر، لم يكلم أحدًا حتى تغرب الشمس – يعني كان منشغلا بالدعاء

“Dahulu Sa’id bin Jubair apabila telah sholat ashar, ia tidak berbicara dengan seorang pun sampai tenggelam matahari (magrib) karena sibuk dengan berdoa.” (Zadul Ma’ad 1/384)

كان طاووس بن كيسان إذا صلى العصر يوم الجمعة، استقبل القبلة، ولم يكلم أحدًا حتى تغرب الشمس

“Dahulu Thawus bin Kaisan jika sholat ashar pada hari jumat menghadap kiblat, ia tidak berbicara dengan seorang pun sampai tenggelam matahari atau waktu magrib.” (Tarikh Waasith)

Syaikh Muhammad Shalih Al – Munajjid hafidzahullah, ia berkata :

فمن أراد أن يتحرى وقت الإجابة بعد العصر يوم الجمعة : فلذلك صور متعددة ، منها:

١. أن يبقى بعد صلاة العصر لا يخرج من المسجد يدعو ، ويتأكد ذلك منه في آخر ساعة من العصر ، وهذه أعلى المنازل

وكان سعيد بن جبير إذا صلى العصر لم يكلم أحداً حتى تغرب الشمس

٢. أن يذهب إلى المسجد قبل المغرب بزمن ، فيصلي تحية المسجد ، ويدعو إلى آخر ساعة من العصر ، وهذه أوسط المنازل

٣. أن يجلس في مجلس – في بيته أو غيره – يدعو ربه تعالى في آخر ساعة من العصر ، وهذه أدنى المنازل

“Bagi yang menginginkan mencari waktu mustajab setelah ashar hari jumat, ada beberapa cara, yaitu :

  1. Tetap berada di masjid setelah sholat ashar atau tidak keluar dari masjid dan kemudian berdoa. Ditekankan ketika akhir waktu ahsar atau menjelang magrib, ini adalah kedudukan tertinggi.
    Said bin Jubair jika ia sholat ashar tidaklah berbicara dengan seorangpun sampai tenggelam matahari.
  2. Ia berangkat ke masjid menjelang magrib kemudian sholat tahiyatul masjid, berdoa sampai akhir waktu ashar ini adalah kedudukan pertengahan.
  3. Ia duduk ditempatnya dan berdoa kepada Rabb-nya sampai akhir waktu ashar. Ini adalah kedudukan terendah.
    Perhatikan bagaimana semangat para salaf dahulu memanfaatkan berkahnya waktu ba’da ashar di hari jumat.”

Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah, ia menjelaskan :

“Dzahir hadits adalah mutlak yaitu barang siapa yang berdoa di waktu musjatab pada akhir hari jumat yaitu menjelang magrib, karena akhir hari dalam hijriyah adalah magrib.

Diharapkan dapat dikabulkan, akan tetapi jika ia menunggu sholat di masjid tempat sholat magrib, ini lebih hati – hati karena Rasulullah SAW bersabda : ‘ia menegakkan sholat’.

Orang yang menunggu sebagaimana kedudukan orang yang sholat maka dalam keadaan sholat lebih diharapkan mustajab. Orang yang menunggu sholat sebagaimana orang sholat.

Jika ia sakit bisa dilakukan di rumahnya , tidak mengapa. Atau wanita yang menunggu sholat magrib di mushallanya atau tempat sholat di rumah, atau yang sakit di mushallanya berdoa di waktu ashar dan berharap mustajab.

Jika ia ingin, menuju masjid tempat ia ingin sholat magrib lebih awal, duduklah dan menunggu sholat serta berdoa.” (Majmu’ Fatawa bin Baz 30/270)

Syekh Ibnu Hajar al – Haitami ia menjelaskan :

وَالْمُرَادُ أَنَّهَا لَا تَخْرُجُ عَنْ هَذَا الْوَقْتِ لَا أَنَّهَا مُسْتَغْرِقَةٌ لَهُ لِأَنَّهَا لَحْظَةٌ لَطِيْفَةٌ

“Yang dimaksud adalah bahwa waktu ijabah tersebut tidak keluar dari rentang waktu ini, bukan keseluruhan rentang waktu tersebut, karena waktu ijabah sangat singkat sekali.”

Syekh Jalaluddin Al – Bulqini sebagaimana dikutip Syekh Mahfuzh At – Tarmasi menjawab sebagai berikut :

وَسُئِلَ الْبُلْقِيْنِيُّ كَيْفَ يُسْتَحَبُّ الدُّعَاءُ فِيْ حَالِ الْخُطْبَةِ وَهُوَ مَأْمُوْرٌ بِالْإِنْصَاتِ؟ فَأَجَابَ بِأَنَّهُ لَيْسَ مِنْ شَرْطِ الدُّعَاءِ اّلتَّلَفُّظُ بَلِ اسْتِحْضَارُ ذَلِكَ بِقَلْبِهِ كَافٍ فِيْ ذَلِكَ

“Imam Al – Bulqini ditanya : ‘Bagaimana mungkin jamaah jumat disunahkan berdoa saat berlangsungnya khutbah sementara ia diperintahkan diam?’ Ia menjawab : ‘Doa tidak disyaratkan untuk diucapkan. Menghadirkan doa di dalam hati saat khutbah berlangsung sudah cukup.’”

HR Imam Muslim dan Imam Abi Dawud :

عَنْ أَبِي مُوْسَى اَلْأَشْعَرِيِّ قَالَ قَالَ لِيْ عَبْدُ اللهِ بْنُ عُمَرَ أَسَمِعْتَ أَبَاكَ يُحَدِّثُ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم فِيْ شَأْنِ سَاعَةِ الْإِجَابَةِ؟ قَالَ قُلْتُ نَعَمْ سَمِعُتُهُ يَقُوْلُ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ هِيَ مَا بَيْنَ أَنْ يَجْلِسَ الْإِمَامُ إِلَى أَنْ تُقْضَى الصَّلَاةُ

“Dari Abi Musa Al – Asy’ari, ia berkata : ‘Abdullah bin Umar berkata kepadaku, ‘Apakah kau pernah mendengar ayahmu bercerita dari Rasulullah SAW tentang waktu ijabah?’

Aku menjawab, ‘iya, aku pernah mendengar ayahku mendengar dari Rasulullah SAW bahwa beliau bersabda : ‘Waktu ijabah adalah waktu di antara duduknya imam sampai selesainya sholat jumat.’” (HR Muslim dan Abi Dawud)

HR Al – Bukhari :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَكَرَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَقَالَ فِيهِ سَاعَةٌ لَا يُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي يَسْأَلُ اللهَ تَعَالَى شَيْئًا إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ وَأَشَارَ بِيَدِهِ يُقَلِّلُهَا

Dari sahabat Abi Hurairah RA, sungguh Rasulullah SAW menyebut hari jumat kemudian berkomentar perihal jumat : ‘Pada hari itu terdapat waktu yang tidaklah seorang Muslim menemuinya dalam keadaan beribadah seraya ia meminta kepada Allah SWT sesuatu hajat, kecuali Allah SWT mengabulkan permintaannya.’ Rasulullah SAW memberi isyarat dengan tangannya bahwa waktu tersebut sangat sebentar.” (HR Al – Bukhari)

Dari Abu Hurairah, ia mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda :

فِيهِ سَاعَةٌ لاَ يُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ ، وَهْوَ قَائِمٌ يُصَلِّى ، يَسْأَلُ اللَّهَ تَعَالَى شَيْئًا إِلاَّ أَعْطَاهُ إِيَّاهُ

“Di hari jumat terdapat suatu waktu yang tidaklah seorang hamba muslim yang ia berdiri melaksanakan sholat lantas ia memanjatkan suatu doa pada Allah SWT bertepatan dengan waktu tersebut melainkan Allah SWT akan memberi apa yang ia minta.”

Dari Abu Hurairah, ia mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda :

“Di hari jumat terdapat suatu waktu yang tidaklah seorang hamba muslim yang ia berdiri melaksanakan sholat lantas dia memanjatkan suatu doa pada Allah SWT bertepatan dengan waktu tersebut melainkan Allah SWT akan memberi apa yang dia minta.” (HR Bukhari, Muslim, Ahmad, dan yang lainnya)

Dari Abu Burdah bin Abi Musa Al Asy’ari, ia berkata :

“Abdullah bin ‘Umar bertanya padaku : ‘Apakah engkau pernah mendengar ayahmu menyebut suatu hadits dari Rasulullah SAW mengenai waktu mustajabnya doa di hari jumat?’ Abu Burdah menjawab : ‘Iya betul, aku pernah mendengar dari ayahku Abu Musa, ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda :

هِىَ مَا بَيْنَ أَنْ يَجْلِسَ الإِمَامُ إِلَى أَنْ تُقْضَى الصَّلاَةُ

“Waktu tersebut adalah antara imam duduk ketika khutbah hingga imam menunaikan sholat jumat.”

Dari Jabir bin ‘Abdillah RA, ia mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda :

« يَوْمُ الْجُمُعَةِ ثِنْتَا عَشْرَةَ ». يُرِيدُ سَاعَةً « لاَ يُوجَدُ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ شَيْئًا إِلاَّ آتَاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فَالْتَمِسُوهَا آخِرَ سَاعَةٍ بَعْدَ الْعَصْرِ ».

“Waktu siang di hari jumat ada 12 jam. Jika seorang muslim memohon pada Allah SWT sesuatu di suatu waktu di hari jumat pasti Allah SWT akan mengabulkannya. Carilah waktu tersebut yaitu di waktu – waktu akhir setelah ashar.”

Ibnu Hajar, ia mengatakan :

أَنَّ كُلّ رِوَايَة جَاءَ فِيهَا تَعْيِين وَقْت السَّاعَة الْمَذْكُورَة مَرْفُوعًا وَهْم ، وَاَللَّه أَعْلَم .

“Setiap riwayat yang menyebutkan penentuan waktu mustajab di hari jumat secara marfu’ sampai Rasulullah SAW memiliki wahm atau kekeliruan. Wallahu a’lam.”

Dari Amr bin Auf al – Muzanni RA, ia mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda :

“Sesungguhnya pada hari jumat terdapat satu waktu, jika para hamba memohon kepada Allah SWT, pasti akan dikabulkan oleh Allah SWT.

Para sahabat bertanya : ‘Ya Rasulullah, waktu kapankah itu?’

Jawab beliau : “Ketika sholat dimulai hingga selesai sholat.” (HR Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Dari Abdullah bin Sallam RA, beliau pernah bertanya kepada Rasulullah SAW :

“Kami menjumpai dalam kitabullah, bahwa di hari jumat ada satu waktu. Apabila ada seorang hamba beriman melakukan sholat bertepatan dengan waktu tersebut. Kemudian memohon kepada Allah, maka Allah akan penuhi permohonannya.”

Kemudian Rasulullah SAW berisyarat kepadaku, ‘Itu hanya sebentar?’

‘Anda benar, hanya sebentar.’ Jawab Abdullah bin Sallam.

Lalu Abdullah bertanya, ‘Kapan waktu itu’.

Jawab beliau, “Itu adalah waktu di penhujung hari, bukankah itu waktu larangan sholat?’

Rasulullah SAW pun menjawab, “Benar, namun ketika seorang hamba melakukan sholat di awal ashar, lalu dia duduk menunggu sholat berikutnya, dia terhitung sedang melakukan sholat.” (HR Ibnu Majah)

Referensi:

islami.co/surga-bagi-orang-yang-membaca-doa-ini-di-hari-jumat/

Doa Ruqyah

Intan Qothrunnada
4 min read

Doa Kamilin

Intan Qothrunnada
4 min read

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *